“Kasus di kampung atas air itu hampir sama di Manggar, soal jalan Lumba-lumba habis diperbaiki, rusak. Diperbaiki, rusak lagi. Bukan kita tidak mau memperbaiki. Kalau ini berlangsung terus, tanpa ada komitmen warga, RT, Lurah,” kata Sudirman, kemarin.
“Itu kan mengeluarkan biaya. Misalnya ada 10-15 lampu, katakan kabel dipotong, roll lampu dirusak. Nah, kalau sampai 5 kali keluar biaya di sana, begitu ada pemeriksaan, nanti akan jadi pertanyaan. Itu ada apa? Kok berulang kali (diperbaiki). Dikira kami mengada-ada, dikira ada keuntungan di sana. Padahal masyarakat yang merusak,” ujarnya.
“Makanya teman-teman di PJU minta ke RT warga lurah ada komitmen menjaga bersama. Kami pernah baikin dan saat diperbaiki ada warga bilang Percuma Pak diperbaiki. Nanti dirusak lagi. Itu warga yang ngomong di situ. Informasi katanya untuk ngumpul ngelem malam-malam di sana,” ungkapnya.
Sudirman berpendapat penerangan di lingkungan dimaksudkan agar tidak terjadi penyakit masyarakat. Namun sayangnya lingkungan dan masyarakat justru sebaliknya, kurang mendukung.
“Jadi soal penerangan itu jangan disalahkan kami semua. Itu sudah 5 kali dari bulan Juni sampai sekarang. Itu hampir tiap bulan kami perbaiki. Kalau di Lumba-lumba 2-3 kali perusakan. Kalau di Kampung Atas Air, kabel dipotong. Kalau di lumba-lumba lampu diketapel,” tandasnya. (din)