Harap-harap Cemas Sampai Akhir Tahun
2 menit baca982 kali dibaca
BALIKPAPAN - Upaya Dinas Kesehatan bersama masyarakat, untuk menekan angka penderita Demam Berdarah Dengue (DBD), diklaim berbuah hasil, dibanding tahun lalu. Tahun ini, hingga pekan ke-45, tercaat 907 kasus, 2 orang diantaranya meninggal dunia.
Meski demikian, penurunan itu diharapkan terus berlanjut sampai dengan akhir tahun
“Kita berharap korban meninggal tidak bertambah, hingga akhir tahun. Kalau data tahun lalu kan ada 26 yang meninggal dari 4.113 kasus,” kata Kepala DKK Balikpapan, Balerina, kemarin.
Dijelaskan Balerina, terjadi penurunan angka korban meninggal dunia akibat DBD. Dua korban meninggal terjadi pada Februari 2017 di kawasan Gunung Bahagia, dan Juni di Muara Rapak. “Memang angka penderita tertinggi pada Februari lalu,” katanya.
Sementara di October hingga November ini, ada penambahan 11 kasus dari bulan-bulan sebelumnya. Menurut Balerina, jika pasien dilakukan dengan baik, maka ke depan bukan tidak mungkin angka DBD di Balikpapan terus menurun dan tidak lagi jadi daerah endemis. “Meski begitu, tetap berproses selama beberapa tahun. Namun diharapkan tiap tahunnya angka kasus menurun,” ujarnya.
Menurutnya upaya penanggulangan DBD terus dilakukan DKK demi menekan jumlah kasus. Tentunya dengan keterlibatan masyarakat.
Lanjutnya, ada faktor internal dan eksternal yang dilakukan dalam mencegah dan tidak terulangnya angka kematian pendeita DBD.
“Yang perlu diketahui DBD kan basisnya. Lingkungan, tanggung jawab bukan hanya pada DKK, tapi juga OPD lain termasuk Lurah dan camat yang membantu menyosialisasikan kegiatan KBM di masyarakat,” tandasnya.
Saat ini dari sisi sarana DKK cukup diuntungkan karena keberadaan puskesmas, telah memiliki alat pemeriksaan yang bisa mengidentifikasi virus DBD meski belum 100 persen akurat.
Balerina mengajak masyarakat menggalakkan bersih-bersih rutin, dan ingat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan 3M.
“Itu secara eksternal. Kalau internal DKK melakukan monitoring dan inovasi seperti kelambu air, pemakaian ikan, dan pemberian abate. Kalau di Puskesmas kami juga buat alur pelayanan, kalau anak panas maka dianggap DBD. Entah dia panas karena apa, yang jelas penanganan pertama diperlakukan seperti penderita
Dijelaskan, setelah diperlakukan seperti penderita DBD, pasien baru diperiksa. Penanganan tersebut dimaksudkan agar bagi penderita DBD tidak terlambat menerima pertolongan.(din)










