Pelindo sendiri tidak kurang 7 tahun terakhir, tidak lagi memungut sewa Rp110 ribu tiap lapak. Sebab memang, areal pelabuhan ingin didesain lebih bagus.
“Kami sudah tidak bisa lagi mengulur-ulur waktu, menunda waktu (pengosongan areal pelabuhan dari PKL). Sudah 7 tahun 7 bulan ini, tidak lagi kita pungut sewa. Kita sudah ada kesepakatan bersama akhir 2016 lalu, untuk mengosongkan kios. Hari ini, merupakan waktu pembongkaran,” kata GM PT Pelindo IV Pelabuhan Semayang Baharuddin, kepada wartawan, di sela proses pembongkaran kemarin.
Diterangkan Baharuddin, Pelindo telah memberi tali asih kepada kesemua pedagang yang berjumlah 93 pelapak. Selain itu, juga disediakan truk dan pikap, untuk mengangkut barang dagangan pascapembongkaran.
“Tali asih besarannya variatif ya. Kalau (pedagang) yang bongkar sendiri, terima penuh,” ujarnya.
Pembongkaran itu sendiri, mendapatkan pengawalan ketat Satpol PP Balikpapan, Sabhara Polres Balikpapan dan Polsek Kawasan Pelabuhan.
Sejumlah pedagang berupaya memberikan perlawanan, dengan berdiri sambil bergandengan tangan, membentuk blokade untuk menolak pengosongan. Akhirnya mereka pun dibuat tidak berdaya, setelah diminta petugas mengosongkan kios.
Aksi mengumpat, teriakan histeris dan tangisan pun pecah. Bahkan, pedagang yang berteriak sekuat tenaga, akhirnya jatuh pingsan. “Kami bukan teroris, kenapa harus begini menghadapi kami dengan banyak petugas?” teriak pedagang.
“Tembak kami Pak. Biar kami sekalian mati di sini. Kalau Ibu Bapak enak sudah jadi polisi, ada yang gaji. Kalau kami mau jualan dimana,” sahut pedagang lainnya. (din)