Kekesalan mereka, diantaranya disebabkan adanya calon siswa yang nilainya relatif tinggi, justru tidak diterima. Sebaliknya, siswa bernilai rendah, diterima di SMPN 22.
“Masak anak saya nilai 24 tidak bisa masuk. Anak lain, nilai 22 malah diterima. Ini sekolah ada apa?” kata salah seorang orangtua calon siswa, Agustina (35), kepada wartawan, kemarin.
“Ayo kita las saja gerbang besi sekolah. Biar sekalian belajar di luar sekolah,” teriak warga yang demikian kesal dengan dugaan kecurangan panitia PPDB.
Sementara, Asmad (41), warga Sumber Rejo juga mengaku heran dan merasa dipersulit. “Kami warga di sini, kenapa dipersulit masuk ke sekolah di sini,” kata Asmad.
Wartawan pun berusaha mencari tahu duduk persoalan sebenarnya. Namun sayang, pihak sekolah terkesan menutupinya.
Kepala SMPN 22 Sudomo mengatakan, dia menampung keluhan warga, dan akan menyampaikan persoalan itu, ke Dinas Pendidikan Kota, sebagai pengambil keputusan.
“Kami akan membantu menyampaikan aspirasi warga. Kami sudah berjuang untuk mengakomodasi warga sekitar, yang anaknya tidak diterima di sini,” kilah Sudomo saat dikonfirmasi wartawan, usai menggelar pertemuan tertutup bersama warga.
Menurut Sudomo, proses PPDB di sekolahnya berjalan transparan. Enam kelas diisi oleh 195 orang siswa baru. “Ini sesuai dengan juknis yang dikeluarkan Disdik. Jadi setiap kelas nanti diisi 32 siswa. Rinciannya jalur reguler 55 siswa, bina lingkungan 115 siswa dan anak guru 4 orang, prestasi 6 siswa, keluarga miskin 8 siswa dan luar daerah 2 siswa,” jelasnya.
Meski ramai didatangi warga, aksi mereka tidak sampai pada menggangu ketertiban. Mereka membubarkan diri setelah mendapatkan penjelasan dari kepala sekolah, yang baru bertugas 3 bulan terakhir ini. (din)