“Jadi yang kita bantu itu korban, sedangkan pemilik kan sudah menyewakan. Nanti kita coba untuk konsolidasi lahan yang milik masyarakat,” ujarnya.
Menurut Syaiful, di sisi lain, Pemkot sulit melakukan konsolidasi lahan untuk penataan di eks kebakaran Kelurahan Klandasan Ulu. Mengingat banyak rumah warga semi permanen, berukuran 4x4 meter.
Dalam konsolidasi lahan nantinya akan dikeluarkan rekomendasi teknis. Hanya saja untuk melebarkan jalan di kawasan itu, sulit dilakukan karena bentuk rumah yang terbakar rata-rata berukuran kecil. “Jadi, kalau mau melebarkan jalan di situ maka harus sosialisasi secara intensif di masyarakat. Tapi yang jelas kita tata, agar kondisinya tidak kumuh,” tambahnya, tanpa memastikan waktu panatan.
Syaiful mencontohkan, penataan lokasi bekas kebakaran, yang pernah diterapkan di area kampung atas air, di Balikpapan Barat. “Setelah kebakaran, kampung atas air itu, rumah-rumah ditata rapi dan menghadap ke jalan,” terang Syaiful.
Sementara, di Klandasan Ulu, penataan itu kecil kemungkinan untuk diterapkan, mengingat minimnya lahan permukiman yang hangus terbakar. “Beratnya ya itu tadi, lahan cuma 4 x 4, dimana kalau dikonsolidasi, mereka mau kemana? Kan ukuran segitu adalah rumah paling kecil,” tandas Syaiful.
Diketahui, kebakaran yang terjadi di Klandasan Ulu pada 5 Januari lalu, membuat 133 Kepala Keluarga di 5 RT kehilangan tempat tinggal, dan menewaskan 3 orang. Namun dari peristiwa itu, menggugah solidaritas masyarakat dalam bentuk bantuan, baik berupa barang maupun uang, yang nilainya mencapai Rp3,7 miliar. (din)