“Kuliner ini, ada sekitar 40 persen. Baik itu usaha makanan kering, makanan basah, atau makanan yang diolah jadi buah tangan atau oleh-oleh Balikpapan,” kata Rabiatun, kemarin.
Kendati demikian, Rabiatun tidak memungkiri, jumlah pelaku UMKM itu, tidak kesemuanya aktif. Mengingat, pendataan dilakukan di 2016 lalu.
“Sepertinya tidak semua aktif karena UMKM itu kan cepat berubah. Itu pendataan kami dengan kelurahan, datanya tidak begitu valid. Tapi itu terakhir kita lakukan pendataan tahun 2016,” ujar Rabiatun. Meski saat ini berada di tengah ekonomi yang kurang membaik, pihaknya memperkirakan pertumbuhan UMKM di Balikpapan tetap meningkat, meski omzet diperkirakan menurun.
“Untuk UKM pertumbuhannya malah meningkat, tapi segi pemasaran mengalami penurunan omzet. Turunnya karena banyak kena PHK, dan kelas high clas sedikit mengalami penurunan omzet. Tapi yang (harganya) terjangkau, tidak pengaruh,” ujarnya.
Dia menambahkan upaya yang dilakukan saat ini, diantaranya melakukan pembinaan dengan berbagai pelatihan seperti membuat kue, pelatihan membuat kemasan yang menarik dan diklat manajemen keuangan.
“Memang tahun ini untuk anggaran pembinaan tidak banyak, tapi kami terus berupaya dengan bekerjasama pihak ketiga seperti perusahaan melalui program CSR. Perusahaan-perusahaan juga saat ini banyak yang melakukan pelatihan untuk UMKM, dan itu sangat membantu,” tukasnya. (din)