Menurutnya dari jumlah itu, 538 di antaranya berhasil diselamatkan, 58 meninggal dunia, serta 11 lainnya masih berstatus hilang. Yang terbaru, kasus nelayan hilang di Kabupaten Nunukan Kaltara.
“Sampai hari ini masih ada satu operasi pencarian yang masih kami lakukan, yaitu pencarian seorang nelayan yang hilang di perairan Nunukan,” kata Octavianto, kemarin.
Dia mengakui kejadian pelayaran dan kondisi membahayakan manusia merupakan dua kasus dominan yang terjadi selama ini di Kaltimra. Sedangkan kejadian yang paling minim, adalah kecelakaan udara. “Ya, kedua kejadian itu yang mendominasi setiap tahunnya, dan yang terendah adalah laka (kecelakaan) udara. Sepanjang tahun ini kami juga pastikan untuk musibah penerbangan, nihil,” jelasnya.
Selain musibah pelayaran dan orang tenggelam, pihaknya juga kerap melakukan operasi SAR terhadap musibah bencana alam yang terjadi.
Diterangkan Octavianto, musibah yang terjadi pada awal semester pertama tahun ini, mengalami peningkatan dibanding 2016, sebesar 30 persen. Sedangkan pada semester kedua mengalami penurunan.
Tiap tahunnya, rata-rata ops SAR yang dilaksanakan di wilayah Kaltimra di sekitar angka 57,6 kali operasi. “Tapi tren 2017 menurun dibanding 2016,” tandasnya.
Dia menambahkan tingginya insiden di perairan, membuat Basarnas bersama pihak terkait, terus menghimbau kepada pengguna jasa transportasi laut, agar untuk berhati-hati dan memperhatikan sejumlah hal penting.
“Pertama untuk dapat menentukan rute arah pelayaran yang tepat. Kedua, mengatur betul-betul waktu kembali. Ketiga, APD seperti pelampung wajib digunakan. Keempat, kenali wilayah tujuan berlayar guna menghindari wilayah asing dan tidak dikenal. Dan terakhir waspada kondisi cuaca buruk yang terjadi belakangan waktu,” tukas Octa. (din)