Adanya penurunan biaya yang dirasakan oleh perbankan, secara otomatis akan menurunkan biaya administrasi bulanan yang dibebankan kepada nasabah. “Dampaknya, masyarakat semakin nyaman menggunakan non tunai karena semua kanal pembayaran telah terhubung,” sebut Edy.
Ia pun mengajak kepada seluruh warga indonesia, khususnya di Kaltim yang memiliki kartu debet atau ATM untuk segera menukarkan dengan kartu ATM berlogo GPN.
Lebih lanjut dikatakan Edy, selain manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, perbankan juga mendapat keuntungan lebih dari adanya sistem GPN tersebut. Bagi bank, kehadiran GPN dapat memperluas akseptasi nasabah melalui kemudahan akses terhadap seluruh kanal pembayaran.
“Jadi, bank tidak perlu lagi berkompetisi dalam menyediakan infrastruktur kanal pembayaran, sehingga dapat lebih leluasa dan fokus dalam meningkatkan kualitas layanan kepada nasabahnya,” terang politikus PDI Perjuangan ini.
Selain itu, dari sisi industri sistem pembayaran, GPN dapat meningkatkan efisiensi biaya karena hanya dibutuhkan satu electronic data capture (EDC) atau mesin gesek di setiap merchant. “Adanya GPN, dapat mengurangi biaya transaksi karena transaksi diproses di dalam negeri. Ada pula sharing infrastruktur EDC dapat menekan biaya pengadaan EDC baru,” jelas Edy.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Muhamad Nur mengatakan, Bank Indonesia telah melaunching kampanye GPN sejak 4 Desember 2017. Sedangkan penukaran kartu secara nasional telah dilakukan sejak Mei 2018 yang lalu.
Sejalan dengan kebijakan GPN tersebut, Bank Indonesia berupaya mendorong masyarakat diberbagai wilayah untuk mengenal lebih dekat mengenai GPN. “Di Kaltim, program kampanye GPN terlebih dulu telah dilaksanakan di Balikpapan pada 29 Juli lalu, dan hari ini (kemarin) kampanye GPN di Samarinda,” kata Nur.
Kegiatan Kampanye GPN di Kaltim ini, Bank Indonesia bersama 34 bank melaksanakan kampanye yang terdiri dari 3 rangkaian kegiatan, yakni sosialisasi/edukasi termasuk talkshow di media elektronik dan media cetak. (adv/hms6)