
Agendanya tak lain survei potensi wisata Samarinda khususnya di Sungai Karang Mumus yang membelah kota Samarinda dan memiliki panjang 34 kilometer itu. Tentu, warga Samarinda sudah lekat ingatannya dengan salah satu anak sungai Mahakam ini. Hasil dari survey ini nanti akan dijadikan kajian untuk menyusun kelengkapan apa saja yang harus dipenuhi sebelum Sungai Karang Mumus ini dijadikan objek wisata baru.
Sebenarnya, ide survey Sungai Karang Mumus ini cukup mendadak. Setidaknya informasi itu saya peroleh dari seorang kawan baik saya, Aris Roshan salah satu inisiator survey ini. Dia juga merupakan owner kapal wisata Pesut Etam. Kapalnya ini lah yang biasa wara-wiri di Sungai Mahakam membawa turis, tidak hanya lokal, tapi juga bule dari mancanegara.
Berbekal satu dos air mineral dan jajanan seadanya, kami bertolak dari dermaga tersebut sekitar pukul 09.00 Wita dan mulai masuk Sungai Karang Mumus dari jembatan satu di Jalan Tongkol. Sepanjang perjalanan, setidaknya dari jembatan satu hingga jembatan Arif Rahman Hakim, pemandangan masih ‘bersahabat’, karena sisi kanan dan kiri sungai sudah rapi dengan turap beton.
Nah, memasuki jembatan tiga hingga jembatan Nibung di Jl Dr Sutomo, pemandangan pemukiman warga tepi sungai mulai tersaji. Meski terlihat ada beberapa jamban dan sampah yang larut, namun kondisi sungai sudah lebih baik dari beberapa tahun sebelumnya. Tentu warga Samarinda masih ingat di suatu masa, ketika kondisi air Sungai Karang Mumus dulunya sangat hitam pekat, kotor dan berbau. Itu dulu.

Sekarang, airnya cukup bersih, tidak kotor dan berwarna hitam, tidak berbau dan airnya mengalir dari hulu ke hilir. Kamera para jurnalis dan rombongan tak pernah berhenti mengabadikan momen ketika melintasi pemukiman warga tepi sungai, termasuk bangunan seperti masjid, musala dan taman Kotaku di Jl Perniagaan yang justru terlihat indah ketika angle pengambilan gambarnya dari sisi sungai.
Rencana susur sungai Karang Mumus hingga ke kawasan Waduk Benanga kemarin ternyata terhenti di Jembatan Nibung, karena air sedang pasang sehingga kapal yang kami tumpangi tidak dapat melintas di bawah jembatan. Pemerintah pun sudah berencana untuk meninggikan jembatan tersebut.
Setidaknya, launcing wisata susur Sungai Karang Mumus ini bisa dilakukan dalam waktu dekat, apalagi semua pemangku kebijakan sudah satu suara mendukung kemajuan wisata Kota Samarinda, sehingga wisata susur Sungai Karang Mumus layak dijual dan bisa menambah Pendapatan Asli Daerah dan menggerakan sektor perekonomian.[]
Penulis : Maruly Zainuddin