
Seperti dua desa yang dikunjungi Koran Kaltim bersama Pemprov Kaltim yakni Desa Muara Adang, Kecamatan Long Ikis dan desa Modang, Kecamatan Kuaro.
Bukan hanya memiliki daerah tutupan hutan yang luas, dua desa tersebut juga ternyata memiliki potensi wisata yang layak untuk dikembangkan.

Seperti Hutan Mangrove di Desa Muara Adang. Desa dengan tutupan hutan yang cukup luas tersebut diklaim memiliki 3 ribu hektar lebih daerah tutupan hutan, termasuk di dalamnya hutan mangrove.
Kepala Desa Muara Adang, Kurniansyah mengaku selama beberapa tahun ini, warga memang diminta untuk memaksimalkan penanaman hutan mangrove, bahkan hingga ke areal tambak mereka.
“Karena mayoritas warga kami ini penambak, jadi kami berharap bisa mengembangkan silvofishery sehingga bisa berwisata mangrove, dengan pemandangan tambak ikan,” katanya.
Silvofishery merupakan pengelolaan Hutan Mangrove dengan mengkombinasikannya bersamaan dengan budidaya ikan, udang dalam tambak.
Bukan hanya Muara Adang, desa yang akan merasakan Proklim Plus lainnya adalah Desa Modang.
Kepala Desa Modang, Syahruddin mengatakan memiliki 6 ribu daerah tutupan hutan dari total 10 ribu hektar wilayah desa mereka.
Bersama masyarakat, Pemdes sudah menyiapkan 1600 hektar lahan perhutanan yang tidak boleh diganggu gugat. “Itu sudah kesepakatan kami karena di perhutanan tersebut juga ada kawasaan Kekayaan Alam Hayati (Kahati),” jelasnya.
Taman Kahati yang menjadi lokasi kebanggaan Desa Modang tak hanya kawasan hutan, namun terdapat air terjun Doyam Seriam yang bernuansa sangat alami.
Pasalnya air terjun tersebut berada diantara hutan belantara yang masih asri. Pantauan Koran Kaltim, Doyam Seriam memiliki air yang sangat jernih, bahkan bisa langsung diminum.
Selain itu, Paser juga memiliki wisata pegunungan Gunung Embun di Kecamatan Muara Samu. Sejumlah pengunjung mengaku keindahan Gunung Embun nyaris sama dengan wisata Gunung Bromo di Jatim.
“Jadi teman-teman saya sebutnya Bromo-nya Kalimantan. Dari sini kalau pagi, kita lihat seperti kawah,” tutur salah satu pengunjung, Diana.
Untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari Gunung Embun, pengunjung harus tiba dipuncak sebelum fajar. Karenanya banyak pengunjung memilih menginap dengan tenda-tenda perkemahan.
“Fasilitasnya juga memadai. Kita tidak perlu bawa, tenda tersedia meskipun harus sewa. Air bersih juga ada, makanan dan minuman pun ada,” jelasnya.
Hal-hal Yang Harus Dikembangkan
Dari ketiga lokasi wisata tersebut, Koran Kaltim menghimpun sejumlah tanggapan dari pengunjung. Rata-rata pengunjung berharap akses ketempat wisata tersebut terpenuhi.
Seperti pengunjung wisata Air Terjun Doyam Seriam, Nofiatul mengaku untuk sampai ke air terjun tersebut diperlukan tenaga ekstra.
“Karena harus turun lewat anak tangga, ratusan anak tangga ya. Jadi cukup melelahkan, untungnya pemandangannya sebanding,” beber Nofiatul.
Akses menuju gerbang air terjun pun sangat sulit. Karena, ia bersama rombongannya harus menggunakan mobil khusus untuk melewati akses jalan yang cukup curam dan terjal yang masih berupa tanah dan batu.
Akses ke Gunung Embun, Koran Kaltim merasakan bahwa akses jalan yang rusak. Rombongan harus melewati kawasan perkebunan sawit dengan penerangan yang minim.
Anggota rombongan, Irfan Arya menjelaskan untuk mencapai lokasi tidak diperlukan waktu lama. “Tapi karena jalanannya rusak waktu tempuhnya jadi lama. Perjalanan juga sebisa mungkin dilakukan sebelum gelap ya. Karena sangat gelap saat malam hari,” terangnya.
Sedangkan akses menuju Desa Muara Adang, warga yang hendak masuk ke area pemukiman warga dan Hutan Mangrove harus melewati sungai, karena jembatan dalam proses perbaikan.
Karenanya, untuk masuk dan keluar Desa Muara Adang harus memperhatikan kondisi pasang surut air. Pasalnya saat air pasang, kendaraan sulit menyebrangi sungai.
Potensi wisata di Paser harus dikembangkan, khususnya wisata alam atau ekowisata, jika dikembangkan dengan baik maka akan memberikan sumbangsih terhadap Pendapatan Asli desa (PADes).
Penulis : */Permata S Rahayu
Editor : Bambang Irawan