Kedua orang warga Jalan Dwikora RT 17, Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang, itu awalnya justru hanya ingin berkebun di lokasi Gunung Lonceng sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bang Zali, begitu biasa sapaan Said Gazali Bahasim oleh warga sekitar rumahnya itu menceritakan, awalnya dia bersama Sahjudin hanya ingin bercocok tanam aneka sayuran segar seperti serai, laos, lombok, pare, hingga labu putih untuk dijual ke pasar terdekat. “Untuk menambah penghasilan lah, lumayan kalau sehari minimal kami bisa dapat Rp50 ribu hasil jualan sayur ini, uangnya bisa dibelikan ikan untuk makan sehari-hari,” terang Zali.

Dia menceritakan, berbekal modal di tangan sebesar Rp1 juta yang ada di tabungan sisa dari Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2019 lalu, Zali kemudian mengajak Udin sapaan Sahjudin untuk bercocok tanam di lahan Gunung Lonceng yang mereka pinjam itu.

Hari demi hari berlalu menunggu panen tiba di atas lahan seluas hampir setengah hektare itu. Memikul air dari sumur untuk dibawa ke lokasi Gunung Lonceng guna menyiram tanaman setiap pagi dan sore pun mereka lakukan. Harapannya hanya satu, bisa menafkahi anak istri di rumah.
Ujian kesabaran pun mulai datang manakala tanaman sayuran mereka ternyata habis terinjak oleh kaki warga yang ingin sekadar berfoto-foto di atas Gunung Lonceng yang memperlihatkan pemandangan indah Sungai Mahakam, Jembatan Mahkota, pemukiman warga dan gedung-gedung Kota Samarinda. “Menangis rasanya kami ini, sayuran di kebun habis diinjak warga yang datang,” ungkap Zali.
Tak ingin kebunnya kembali diinjak-injak, Zali kemudian berinisiatif memberi pagar keliling supaya tidak ada warga yang bisa masuk, hingga akhirnya ada rombongan anak-anak muda jumlahnya sekitar 15 orang yang meminta izin masuk area kebunnya untuk berfoto-foto meski harus membayar.
“Mereka ini bahkan berani bayar asalkan bisa masuk ke Gunung Lonceng, kami berpikirnya ini kesempatan mendapatkan uang, jadi kami izinkan mereka masuk kebun dan berfoto-foto dan mereka bayar Rp5 ribu per orang. Hari itu lumayan, kami dapat Rp75 ribu,” terang Zali yang sehari-harinya berprofesi sebagai tenaga honorer di Dinas Pendidikan Kota Samarinda itu.
Uniknya kata Zali, setiap hari selalu saja dia menemukan uang tercecer di jalan setapak menuju area perkebunannya itu, menandakan bahwa ada warga yang naik ke Gunung Lonceng tanpa sepengetahuannya.
Melihat peluang itu, Udin pun mulai memiliki ide untuk membangun spot-spot foto seperti miniatur kapal-kapalan dari kayu, ayunan, rumah pohon hingga meja dan kursi untuk bersantai. Tak butuh waktu lama, berkat kemajuan teknologi dan tersebarnya informasi wisata Gunung Lonceng itu, tempat itu pun mendadak ramai dan sempat viral.
Nyaris sebulan buka, wisata Gunung Lonceng pun terpaksa harus tutup karena Pandemi Covid-19 pada pertengah Maret. Semua objek wisata lumpuh tanpa pengunjung karena adanya arahan pemerintah untuk menutup semua pusat keramaian.
Namun ketika masuk New Normal dan tempat wisata diizinkan kembali beroperasi, Gunung Lonceng pun kembali mampu menarik minat pengunjung untuk datang. Pondok bekas berkebun kemudian disulap menjadi warung kopi termasuk melengkapi fasilitas toilet untuk para pengunjung.
Pandemi Covid-19 ternyata menjadi mimpi buruk bagi warga Jalan Dwikora, karena sebagian mereka terpaksa di rumahkan oleh perusahan tempat mereka bekerja bahkan ada yang sampai terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Beruntunglah ada objek wisata Gunung Lonceng ini, sebagian dari mereka pun bisa bekerja dari menjadi tukang parkir hingga membuka warung-warung yang ada disepanjang jalan masuk tempat wisata ini.
Tak hanya itu, keutungan yang didapat dari penjualan tiket masuk mereka bagi dengan sistem prosentasi dengan rincian 30 persen untuk pemilik tanah, 20 persen dialokasikan untuk pengembangan dan 50 persen pengelola.
Pada hari biasa, pihak pengelola mampu menjual sebanyak 200 tiket masuk per hari, sedangkan pada akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu, pengelola mampu menjual hingga 800 tiket per hari. “Waktu New Normal itu kami malah bisa menjual sampai 1.500 tiket per hari,” tuturnya.
Bahkan, agar keberadaan tempat wisata Gunung Lonceng ini bisa berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), Zali pun sudah melengkapi berkas perpajakannya dengan mulai mengurus tingkat RT, Kelurahan hingga akhirnya direkomendasikan Dinas Pariwisata Kota Samarinda sebagai salah satu objek wisata andalan
Untuk bisa menikmati pemandandangan eksotis Sungai Mahakam dari ketinggian, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp7 ribu per orang.
Penulis: */Maruly Zainudin
Editor: bambang irawan
Berita/artikel ini sudah terbit di Koran Kaltim edisi cetak Sabtu tanggal 19 September 2020