Sebuah mimpi buruk yang pastinya tak pernah terbayangkan, karena Mitra harus berjibaku di Liga 3, kompetisi yang musim 2021/2022 tahun ini lebih banyak diwarnai keributan, aksi baku hantam antarpemain juga terhadap wasit.
Kepastian tim dari Kota Raja Tenggarong terdegradasi setelah pada laga terakhir Grup D, Persewar Waropen bermain imbang 1-1 melawan PSBS Biak Numfor di Stadion Batakan, Balikpapan.
Kekalahan dari Persiba Balikpapan 0-1 berandil besar dalam terjerumusnya Mitra Kukar ke Liga 3. Karena kekalahan itu Mitra yang bermula dari klub Galatama bernama Niac Mitra hanya mengoleksi 12 poin dari 10 pertandingan.
Meski poin Mitra sama dengan PSBS Biak, tetapi kalah head to head. Pada putaran pertama Mitra dan PSBS bermain sama kuat dengan skor 1-1.
Pada putaran kedua Cendrawasih Kuning bisa memanfaatkan keunggulan lewat skor 2-1. Ini menjadi pukulan bagi Mitra Kukar. Setelah degradasi ke Liga 2 dari Liga 1 pada musim 2019, kini turun kasta ke level amatir dalam jenjang kompetisi PSSI.
Posisi Mitra Kukar pun kini setara dengan Persiku Kutai, klub perserikatan asal Tenggarong yang pernah terkenal pada era Divisi Utama Kaltim.
Mitra Kukar yang musim ini ditangani pelatih Asep Suryadi menyusul tim lain yang terdegradasi yaitu Tiga Naga dari Grup A, Badak Lampung FC di Grup B dan Hizbul Wathan FC dari Grup C.
Apa yang dialami Mitra Kukar sangat menyedihkan kalau tidak bisa disebut tragis. Pasalnya, tim ini pernah berlabel klub kaya raya di Indonesia di masa Liga 1 tahun 2017 silam.
Mitra Kukar telah ditangani sejumlah pelatih dari dalam maupun luar negeri. Mereka adalah Eddy Simon Badawi (2003), Hernan Clavito Godoy dari Chili (2004), Solekan (2004), Vata Matanu Garcia asal Angola (2005), mantan pelatih timnas Indonesia asal Bulgaria Ivan Venkov Kolev (2006), Sukardi (2006), Mustaqim (2007 dan 2009), Jacksen F Tiago asal Brazil (2008), Nus Yadera (2008) dan Benny Dolo (2010/2011).
Di awal Liga 1, manajemen tim merekrut Mohamed Sissoko, mantan pemain Paris Saint-Germain, Liverpool, Juventus hingga Valencia.
Sebelum era Liga 1, Mitra Kukar sempat bikin heboh karena di tahun 2013 menggelar pemusatan latihan di Spanyol dan beruji tanding dengan tim-tim besar seperti Atletico Madrid, Valencia, Espanyol, Villarreal dan Barcelona B. Semakin kental aroma kekayaan Mitra Kukar karena jelang Liga 1 tahun 2018 mereka menggelar pemusatan latihan di Malaysia, disaat tim lain focus latihan di Indonesia. Uji coba menghadapi raksasa liga setempat Johor Darul Ta'zim juga digelar.
Mitra Kukar sempat dilatih Rafael Berges Marin, jebolan dari Liga Spanyol dan di musim 2018, Mitra Kukar juga punya pemain berlabel timnas, seperti Arif Suyono dan Ahmad Bustomi. Justru di tahun itu Mitra Kukar terseok dan akhirnya dipastikan terdegradasi ke Liga 2 usai kalah dari Persija Jakarta di pertandingan terakhir. Disaat upaya keras mereka ingin bangkit dan berlaga di Liga 2, justru kegagalan yang dirasakan. Jeratan degradasi tak bisa dihindari dan tim yang dimanajeri Nor Alam pun harus rela bermain di Liga 3 musim depan.
Terdegradasinya Mitra ke Liga 3 membuat banyak fans mereka sedih dan tak menyangka. “Tak disangka, sekelas Mitra Kukar yang dulu bahkan pernah datengin pemain eks EPL sekarang main di Liga 3,” tulis seorang netizen di Twitter. “Selamat dating Mitra Kukar di liga baku hantam,” tulis netizen lainnya menyindir kompetisi kasta ketiga Indonesia itu yang lebih sering diwarnai keributan.
Sementara lewat Twitter mereka, manajemen Mitra Kukar hanya bisa menyampaikan permintaan maaf. “Klasemen Akhir Grup D Liga 2 2021, Mitra Kukar menempati posisi juru kunci dan harus terdegradasi ke Liga 3. Mohon maaf atas hasil yg sangat mengecewakan masyarakat Kutai Kartanegara, khususnya para suporter. Terima kasih atas dukungan yang selalu diberikan kepada tim Naga Mekes,” tulis mereka.
Editor: Aspian Nur