Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, meski sebagian kebijakan masih dalam proses penetapan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menunggu terbitnya Surat Keputusan (SK) Gubernur tentang penetapan status siaga bencana hidrometeorologi basah dan kering. SK tersebut akan menjadi dasar bagi pemerintah kabupaten/kota untuk menetapkan status siaga hingga darurat sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
“Regulasi saat ini masih berproses. Kami berharap dalam waktu dekat sudah ada keputusan resmi sebagai dasar langkah penanganan di daerah,” ujar Cahyo kepada Korankaltim.com, Kamis (26/3/2026).
Di sisi lain, BPBD Kaltim juga mulai mempersiapkan sarana dan prasarana penanggulangan karhutla. Mengingat puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September mendatang, kesiapan peralatan menjadi prioritas agar respons penanganan bisa dilakukan secara cepat.
“Kita juga turut mengimbau seluruh kabupaten/kota untuk melakukan pengecekan ulang terhadap peralatan yang telah didistribusikan sebelumnya, termasuk mesin pompa air yang dapat digunakan untuk mempercepat suplai air di lokasi kebakaran,” ucapnya.
Dalam penanganan karhutla, menurut Cahyo, BPBD tidak bekerja sendiri. Koordinasi terus dilakukan bersama berbagai pihak, seperti Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), satuan tugas perusahaan perkebunan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat lokal.
“Berdasarkan evaluasi kejadian serupa di tahun 2023, hampir seluruh wilayah Kaltim memang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran lahan, khususnya di daerah dengan karakteristik gambut,” katanya.
Meski demikian, potensi hujan di beberapa wilayah masih diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air. Cahyo menyebutkan, daerah rawan karhutla tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga sebagian wilayah Bontang.
Sebab ungkapnya, sebagian wilayah dengan luasan kecil pun tetap berpotensi mengalami titik panas. “Sebaran titik panas cukup merata. Data terakhir menunjukkan ada sekitar 77 hotspot terpantau di berbagai wilayah Kaltim,” tutupnya.
Editor: Erwin