Dalam peristiwa tersebut, tiga rumah warga terdampak dan terpaksa dikosongkan demi keselamatan.
Ketua RT setempat, Mustari, mengatakan tanda-tanda kerusakan sudah terlihat sejak malam hari akibat intensitas hujan yang tinggi. Air hujan masuk melalui tembok yang sebelumnya telah mengalami retakan.
“Awalnya hujan deras satu malam. Tembok sudah ada yang pecah, lalu air masuk lewat sela-sela retakan itu,” ujar Mustari.
Ia menjelaskan, pada Jumat siang sekitar pukul 12.10 Wita, penjaga pos mendengar suara mencurigakan dari struktur rumah yang terdampak longsor.
“Yang jaga pos dengar bunyi kaki-kaki rumah sudah kertuk-kertuk. Saya langsung dipanggil dan diminta keluar. Saat itu saya sempat mengeluarkan barang-barang dari dalam kantor RT,” jelasnya.
Mustari memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena warga telah lebih dulu mengevakuasi diri.
“Alhamdulillah tidak ada orang di dalam. Kita sudah antisipasi karena memang terlihat akan runtuh. Semua barang sempat dikeluarkan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Samarinda, Edy Susanto, menyampaikan pihaknya langsung melakukan assessment setelah menerima laporan dari warga.
“Tim BPBD turun ke lokasi untuk assessment. Dari hasil sementara, ada pergerakan tanah di bawah rumah yang menyebabkan tiga rumah itu longsor,” ungkap Edy.
Ia menambahkan, penyebab longsor diduga dipicu oleh kondisi tanah yang labil dan adanya aliran air di bawah permukaan. BPBD juga mengimbau warga sekitar lokasi untuk sementara mengungsi.
“Kami minta warga yang berada di jalur longsor sementara mengevakuasi diri, karena dikhawatirkan terjadi pergerakan tanah susulan jika hujan kembali turun,” pungkasnya.
Editor: Erwin