Angka Anak Muda yang Menganggur di Kaltim Masih Tinggi
1 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Ainur Rofiah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Tingginya jumlah pemuda yang tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan serta tidak mengikuti pelatihan di Kaltim, masuk bidikkan.
Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, M Darlis Pattalongi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, hingga tahun 2025 tercatat sebanyak 19,35 persen penduduk usia 20–25 tahun masuk dalam kategori tersebut.
Kondisi ini dinilai berpotensi menjadi persoalan sosial dan ekonomi jangka panjang apabila tidak segera ditangani secara komprehensif.
Sektor pendidikan memegang peranan penting dalam menekan angka pengangguran di kalangan generasi muda.
Kualitas pendidikan serta kemudahan akses menjadi faktor penentu kesiapan anak muda dalam memasuki dunia kerja.
Uaya Pemprov Kaltim untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah sudah menunjukkan langkah nyata dan perlu terus diperkuat.
“Upaya memutus mata rantai pengangguran usia muda harus dimulai dari pembenahan pendidikan,” kata Darlis Rabu (14/1/2025).
“Saat ini, pemprov sudah cukup konkret dalam meningkatkan lama sekolah di Kaltim,” sebutnya lagi.
Pendidikan tidak boleh lagi menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dijangkau, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pinggiran dan pedalaman.
Dalam konteks tersebut, Darlis menilai kebijakan GratisPol, termasuk penggratisan Uang Kuliah Tunggal (UKT), merupakan langkah strategis yang berdampak besar dalam jangka panjang.
“Penggratisan UKT bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan investasi masa depan. Dampaknya memang tidak instan, tetapi sangat menentukan kualitas tenaga kerja dan penurunan angka pengangguran ke depan,” jelasnya.
Tak hanya pendidikan tinggi, pemerataan pembangunan sekolah menengah atas (SMA) juga menjadi perhatian DPRD Kaltim.
Masih terdapat sejumlah daerah yang minim fasilitas pendidikan, sehingga memaksa pelajar harus menempuh jarak jauh menuju pusat kota.
Politisi PAN itu menegaskan, pemprov melalui Disdibud terus mendorong pembangunan SMA di wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Editor Aspian Nur










