Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyampaikan pemerintah daerah telah menyiapkan beberapa nama yang tengah dibahas untuk diajukan ke pemerintah pusat sebagai calon penerima gelar pahlawan nasional.
“Kami terus berupaya. Ada beberapa nama yang sedang kami bahas untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional. Namun keputusan akhir tentu ada di pemerintah pusat,” ujar Seno Aji kepada Korankaltim.com Senin (10/11/2025).
Melalui proses panjang diharapkan satu atau dua nama tokoh asal Kaltim bisa ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini. “Kami ingin perjuangan tokoh-tokoh daerah tidak dilupakan dan bisa dikenang secara nasional,” harapnya.
Sementara Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim Andi Muhammad Ishak menjelaskan kalau usulan tokoh daerah sebagai pahlawan nasional sudah beberapa kali pernah dilakukan. Satu nama yang berhasil adalah Sultan Aji Muhammad Idris, yang kini diabadikan sebagai nama Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda.
“Itu hasil usulan kami tahun 2022. Sebelumnya juga pernah diajukan nama Raja Alam dari Berau, namun masih dalam proses kajian dan perlu tambahan dokumen pendukung, bahkan penelusuran hingga ke Belanda,” ungkap Andi.
Selain Raja Alam, pihaknya juga telah mengajukan nama Abdul Moeis dari Kutai Kartanegara serta Sultan Ibrahim Alaluddin dari Paser. Namun, pengajuan tersebut masih menunggu kelengkapan bukti perjuangan dan dokumen sejarah.
“Saat ini dari pusat sudah menindaklanjuti, tapi mereka meminta kami melengkapi catatan otentik perjuangan mereka,” jelasnya.
Proses penetapan pahlawan nasional tidaklah mudah. Setiap nama harus melalui verifikasi ketat oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) di tingkat kabupaten/kota dan provinsi, sebelum diajukan ke Kementerian Sosial.
“Screening-nya cukup ketat. Pemerintah pusat tidak ingin salah menetapkan gelar, apalagi jika ditemukan indikasi kerja sama dengan penjajah,” ungkap Andi.
Salah dari tantangan utama adalah minimnya bukti otentik dan catatan sejarah yang lengkap. Banyak tokoh pejuang telah wafat, sementara keturunan mereka tidak menyimpan dokumen pendukung. “Secara informasi ada, tapi bukti tertulis dan foto sangat minim,” ujarnya.
Meski begitu, dirinya tetap berkomitmen melanjutkan penelusuran sejarah tokoh lokal seperti Aminah Syukur dan Awang Long yang kini tengah digali kembali rekam jejaknya.
“Kami tidak berhenti di sini. Semua tokoh yang berjasa akan terus kita perjuangkan agar mendapat pengakuan layak, tetapi kembali lagi untuk menuju hal tersebut harus ada bukti kuat guna memastikan para tokoh ini layak mendapatkan gelar pahlawan nasional,” tutup Andi.
Editor: Aspian Nur