Operator alat berat BPBD Samarinda Maulana Firdaus mengatakan. kondisi medan di lokasi cukup sulit karena kemiringan tebing yang ekstrem serta material longsor berupa pasir. “Kendala pertama materialnya pasir, kedua kendala cuaca dan ketiga kemiringannya sekitar 80 derajat. Jadi cukup beresiko untuk alat dan petugas di lapangan,” jelas Maulana kepada Korankaltim.com
Material longsoran diketahui menimpa bangunan SMP Madinah dan beberapa rumah warga di bawah tebing beberapa waktu lalu. Tim gabungan masih melakukan pengerukan dan pembersihan material secara bertahap. BPBD sebelumnya telah meminta bantuan alat berat tambahan dari BPUPR karena volume material yang cukup besar.
"Bulan kemarin kami dibantu satu alat dari BPUPR, tapi karena banyak titik longsor, alatnya bergantian dipakai di lokasi lain,” ungkapnya.
Untuk sementara, hasil pengerukan diarahkan ke area pembuangan di sekitar pembangunan masjid terdekat, sesuai arahan tokoh masyarakat dan ketua RT setempat. Abdul Salam, warga setempat mengaku aktivitas belajar SMP Madina di beberapa ruang kelas terpaksa dihentikan sejak longsor pertama yang terjadi pada Juli 2025 lalu.
"Bangunan sekolah ini tidak bisa digunakan karena murid-murid trauma. Ruangan yang terdampak ada satu kelas dan ruang cuci,” jelas Salam.
Tanah di lokasi sangat labil karena didominasi pasir sehingga mudah bergerak setiap kali turun hujan. “Kalau hujan, tanahnya pasti turun sedikit-sedikit. Artinya masih terus bergerak,” sebutnya.
BPBD Samarinda mengimbau warga di sekitar lokasi agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, mengingat curah hujan masih tinggi dan kondisi tanah belum stabil sepenuhnya.
Editor: Aspian Nur