“Kami targetkan bisa mulai digunakan sekitar bulan Juni mendatang, tapi tentu perlu cek ulang apakah masih ada kekurangan,” kata Andi Harun kepada Korankaltim.com Kamis (10/4/2025).
Diketahui, progres pembangunan tahap pertama Pasar Pagi pada Januari lalu telah mencapai lebih dari 96 persen dan saat ini sudah memasuki tahap kedua. Ornamen khas Kalimantan yang menghiasi dinding luar pasar menambah estetika bangunan yang berdiri megah di pusat kota tersebut.
Pembangunan Pasar Pagi sendiri dilakukan dalam dua tahap dengan anggaran sekitar Rp477 Miliar, terdiri dari Rp325 Miliar untuk tahap pertama dan Rp152 Miliar tahap kedua.
Pasar ini akan memiliki tujuh lantai, lengkap dengan fasilitas lift dan eskalator guna meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung maupun pedagang.
Andi Harun meminta Dinas Perdagangan untuk segera menyusun sistem tata kelola pasar yang lebih modern dan professional dan menyarankan agar relokasi pedagang dilakukan setelah seluruh proses pembangunan selesai, agar tidak terjadi pekerjaan ulang atau tumpang tindih.
“Secara fungsional, lapak sudah bisa digunakan sebelum Mei, tapi kalau ada keinginan untuk mulai memindahkan pedagang bertahap, itu masih bisa dibicarakan,” ungkapnya.
Orang nomor satu di Samarinda itu menekankan pentingnya proses pemindahan pedagang dilakukan dengan perencanaan yang matang guna menghindari potensi konflik di lapangan.
Andi Harun juga menyoroti perlunya pembaruan manajemen tidak hanya di Pasar Pagi, tetapi juga di kawasan lain seperti Citra Niaga.
Menurutnya, pengelolaan pasar ke depan harus meninggalkan pola lama dan lebih terbuka terhadap sistem outsourcing jika diperlukan. “Diskusi dengan para pedagang akan terus kami lakukan agar proses penempatan berjalan lancar dan tidak menimbulkan kegaduhan yang tak perlu,” pungkas Andi Harun.
Editor: Aspian Nur