“Yakni ruam dengan lepuhan yang muncul di wajah, tangan, kaki, mata, mulut, dan alat kelamin. Lalu disertai dengan demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot, dan kelemahan tubuh,” ujar dr Osa, pada Minggu (12/11/2023).
Ia juga mengingatkan agar masyarakat bisa meningkatkan kepekaan terhadap gejala yang ada. Penyakit ini juga bisa ditularkan oleh hewan reptil dan hewan melata. Adapun langkah-langkah pencegahan, bisa dimulai dari sosialisasi kepada masyarakat mengenai gejala dan cara penularannya. “Dinkes juga tersedia layanan informasi resmi melalui nomor darurat 119, yang dapat diakses untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang penyakit ini,” bebernya.
Diakuinya, bahwa Mpox sendiri memang belum terjadi di Samarinda. Namun kewaspadaan harus tetap ada, dr Osa juga mendorong masyarakat melakukan laporan ke layanan resmi jika ada tetangga atau keluarga yang mengalami gejalanya.
Saat ini pihaknya sudah memiliki teknologi bio molekuler yang dapat digunakan untuk menganalisis aktivitas biologis dalam tubuh. Ia menambahkan, terdapat Laboraturium Kesehatan Daerah (Labkesda) yang telah dipersiapkan, sehingga, masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan. “Dari Labkesda Samarinda sudah dipersiapkan rujukan pemeriksaaan sampel. Langkah ini untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi ataupun tidak,” urainya.
Langkah ini sangat signifikan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Dengan adanya fasilitas pemeriksaan di tingkat lokal, proses diagnosis dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Maka warga tidak perlu merasa khawatir akan kesulitan akses atau jarak yang jauh untuk mendapatkan pemeriksaan yang akurat.
“Semua langkah-langkah ini merupakan bagian dari strategi menyeluruh untuk mencegah adanya penyakit Mpox yang menyebar di Kota Samarinda,” terangnya.
Dengan keterlibatan Dinkes dan Labkesda, diharapkan setiap potensi kasus dapat diidentifikasi dengan cepat dan diberikan penanganan yang tepat.
Editor: Maruly Zainuddin