Asisten Manajer Humas PerumdaM Tirta Kencana Samarinda, Sendya Ibanez mengatakan, pengurasan bak sedimentasi ini memang rutin dilakukan selama tiga bulan sekali.
“Untuk pengurasan sendiri membutuhkan waktu mulai dari pagi sampai kurang lebih sore, kalau lebih cepat biasanya siang sudah selesai biasanya,” kata Sendya pada korankaltim, Minggu (8/10/2023).
Pada saat pengurasan dilakukan, Perumdam Tirta Kencana menghentikan sementara pengisian air di IPA induk dan mengakibatkan distribusi air bersih akan terhenti. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat di daerah terdampak untuk bisa menampung air sehari sebelum dilakukan pengurasan bak.
Dia mengatakan, saat pengurasan, air tidak terhenti total, namun hanya debitnya yang berkurang. Namun dampaknya, bakal ada rumah yang airnya tidak mengalir sama sekali, khususnya rumah yang berada di ketinggian seperti pegunungan, termasuk rumah di lantai dua.
“Kita imbau pada masyarakat untuk bisa menampung air dulu sebelum dilakukan pengurasan. Pengurasan ini kami terima informasi dari pihak distribusi memang dadakan, mudahan bisa tersampaikan. Karena ini sifatnya rutin, tiap tiga bulan sekali kan jaga kualitas air,” ungkapnya.
Pihaknya juga terus berkomitmen untuk menjagaan kualitas air agar sampai ke pelanggan dengan baik hingga ke rumah-rumah warga. Untuk tahun ini diketahui sudah beberapa kali dilakukan pengurasan. Sedangkan dalam satu tahun pengurasan dilakukan empat kali.
“Kalau dalam satu tahun itu empat kali dan itu tergantung, kita melihat juga ya. Kalau memang filter kami sudah mulai kotor, lalu ada yang namanya vlug air sudah mulai naik ke permukaan maka kita akan cepat-cepat lakukan pengurasan,” jelasnya.
Setelah pengurasan air akan mengalir seperti semula dengan kecepatan yang sama. Beda halnya dengan kasus pipa bocor yang membutuhkan waktu hingga dua hari agar air bisa mengalir normal. Beberapa wilayah terdampak yakni Jalan Sultan Hasanuddin, Bung Tomo, Pangeran Bendahara, HOS Cokroaminoto, KH Harun Nafsi, Perumahan Keledang Mas, Perumahan Uka, Mangkupalas dan sekitarnya.
Editor: Maruly Zainuddin