Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Setyo Budi Basuki mengatakan, sejauh ini pengidap yang menerima akses terhadap obat HIV-AIDS baru sekitar 55 persen.
Untuk penularan tertinggi yang mengidap penyakit tersebut adalah kawasan yang padat penduduk. “Seperti Samarinda dan Balikpapan,” jelas Basuki.
Sebagian besar masyarakat yang mengidap penyakit tersebut berasal dari perilaku hubungan seksual yang tidak sewajarnya. “Maka dari itu berhubungan sesama jenis tentu sangat berisiko tinggi, karena alat kelamin tidak digunakan sebagaimana mestinya,” ujar Basuki lagi.
Penyebarannya berisiko tinggi pada penggunaan jarum suntik narkotika secara bersama-sama. “Kalau memang yang sudah berisiko ketika berhubungan harus menggunakan pelindung, sebagai upaya pencegahan dari penyebab HIV-AIDS tersebut,” ucapnya.
Penyebaran HIV-AIDS diimbangi dengan penularan dari penyakit seksual lainnya. “Jadi apabila ada kasus spilis serta ISK (Infeksi Saluran Kemih) lainnya sudah mendekati, dan tentu kasihan adalah pasangan yang tidak tahu apa-apa, apabila pasangannya berprilaku seperti itu,” terangnya.
Dinkes Kaltim menemukan beberapa kasus di tengah masyarakat yang tiba-tiba saja meninggal, kemudian saat dilakukan tes ternyata positif HIV-AIDS. “Hal ini tentu berdampak kepada anaknya, dan anak itu harus segera dites, karena bisa saja HIV-AIDS itu ditularkan oleh orang tuanya,” tambah Basuki.
Masyarakat diminta tidak takut dengan para pengidap HIV-AIDS, karena penyebarannya juga tidak seperti penyakit pada umumnya, serta selama masih berprilaku seksual yang sewajarnya bisa dikatakan aman.
“Masyarakat juga sampai melakukan diskriminasi serta mengucilkan pengidap dan hal ini harus bisa menjadi kesadaran semua,” tutup Basuki.
Editor: Aspian Nur