“Ada 400 meter kawasan paling krusial di daerah Pasar Kedondong. Sempat ada kendala teknis saat memasuki ke kawasan tersebut karena banyaknya sampah bertebaran,” ujar Andi Harun usai penyusuran sungai tersebut.
Sungai di segmen Pasar Kedondong telah terjadi penyempitan dinding sungai karena banyaknya rumah kayu yang dibangun masyarakat di atas sungai tersebut.
Karena itulah pemkot berencana melakukan penertiban setiap bangunan yang berada di atas anak SKAB.
“Sungai sepanjang 1,6 kilometer dikosentrasikan penyelesainnya tahun 2023 ini sehingga penanganan banjir serta normalisasi sungai dapat berjalan,” sebut Andi Harun lagi.
Yang menjadi perhatian lebih bukan hanya persoalan penanganan banjirnya saja tapi juga persoalan sosial.
“Bagaimana tidak banjir, jika perilaku masyarakat saja dalam membuang sampah sembarangan di sungai masih kerap terjadi,” ungkapnya.
Memang hingga saat ini yang harus menjadi perhatian bersama adalah keberadaan sampah plastik. Kalau ada perilaku masyarakat yang mengumpulkan sampah di dalam kantong plastik lalu dibuang di malam hari ke sungai sungguh sangat keterlaluan.
“Kalau memang tidak ada TPS (Tempat Pembuangan Sementara) jangan dibuang ke sungai supaya tidak membuat fungsi sungai terhambat,” harapnya.
Pemkot Samarinda tidak akan berhenti menangani persoalan SKAB, termasuk penanganan sosialnya.
“Dengan konsistensi pengendalian banjir yang terus dilakukan, jika dilihat sekitar Jalan M Said sudah tidak ada banjir yang menggenang, termasuk di daerah Pasar Kedondong sampai Jalan Revolusi,” terangnya.
Banjir bukanlah hal yang mudah untuk dapat diselesaikan, tetapi dengan komitmen yang dibangun Pemkot Samarinda akan terus melakukan pembenahan di setiap titik banjir dan pasti ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat ke depan.
Penulis: */Rahmat Surya
Editor: Aspian Nur