Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso kepada Korankaltim.com Minggu (23/10/2022) hari ini menjelaskan, sejak awal BMKG sudah menyampaikan dalam sosialisasi kepada para relawan dan TNI-Polri, mengisyaratkan hingga bulan Desember ke depan Kota Samarinda dan sekitarnya masih berada di fase cuaca ekstrem atau hydro metrologi.
"Curah hujan yang tinggi berdampak kepada tanah lonsor bahkan hingga angin puting beliung," ujar Suwarso.
BPBD Kota Samarinda bersama relawan dan TNI- polri terus mempersiapkan peralatan yang ada seperti perahu, tim reaksi cepat dan pengurus bencana yang berada di 10 kecamatan.
"Kami siagakan semua kebutuhan untuk menghadapi cuaca ekstrem tersebut termasuk informasi yang kami sebarkan kepada para relawan di lapangan, supaya lebih cepat dalam menangani kejadian," paparnya.
Kekuatan terbesar dalam menghadapi keadaan seperti ini ada di lingkungan Rukun Tetangga (RT), lurah dan lingkungan masyarakat masing-masing. Pertukaran informasi yang cepat harus di perkuat oleh para relawan agar penanganan dalam kejadian bisa lebih sigap.
"Termasuk antisipasi mengurangi adanya korbankami kita terus sampaikan melalui media baik cetak maupun elektronik, tujuannya tentu untuk kewaspadaan dini masyarakat," sebut Suwarso lagi.
Cuaca ekstrem di Samarinda bisa menyebabkan banjir dan longsor, seperti di di Jalan Damai Gang Intifadah, Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir, disana ada jalan putus karena pergerakan tanah.
Disana ada bangsalan yang sangat beresiko terjadinya longsor maka perlu kewaspadaan dan evakuasi mengamankan diri dulu menjadi hal paling penting serta jangan lupa untuk mengamankan harta-berharga.
Bahaya pohon tumbang juga harus diwaspadai masyarakat, sudah seharusnya ada penanganan atau tindakan identifikasi usia pohonnya, termasuk jenisnya apakah gampang patah atau tidak, serta beban cabang pohon, harus ada upaya dari pemkot untuk melakukan pemerliharaan.
Penulis: Rahmat Surya
Editor: Aspian Nur