Ada enam ruang kelas, tiga di lantai dasar dan tiga di lantai dua yang terimbas tanah amblas tersebut. Retakan terlihat media ini di lokasi yang mana terjadi dibagian dinding membuat posisi gedung sekolah tampak miring. Proses belajar mengajar kini dipindah ke ruangan laboratorium, musala dan ruang rapat. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar satu bulan.
“Ada beberapa kelas yang terpaksa direlokasi dengan memanfaatkan laboratorium, ruang rapat dan musala untuk belajar, karena ada gedung kami yang dua lantai terdiri dari enam ruang kelas dinyatakan berbahaya untuk dipakai proses belajar mengajar,” kata Kepala Sekolah SMK Negeri 8 Samarinda Sri Hartono.
Sebanyak 216 pelajar mau tidak mau harus belajar di luar ruangan. “Mereka kelas XI dan XII jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL), jadi yang terdampak ini sebenarnya jurusan AKL ini saja, tetapi pemerataan dilakukan, sehingga ada beberapa jurusan kami berlakukan hal yang sama,” ungkapnya.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim sudah mengirim ahli untuk melihat kondisi gedung. “Ini bukan dari kami yang menyatakan kalau gedung berbahaya untuk digunakan tetapi kami mengundang Dinas Pendidikan Kaltim untuk melihat dan mereka mengirimkan ahlinya. Mereka bilang berbahaya sehingga disarankan untuk tidak digunakan,” ungkap Sri lagi
Disdik Kaltim juga memberi saran dan pihak sekolah diminta untuk bersurat ke Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim. “Tujuannya untuk mengetahui apakah benar-benar tidak bisa digunakan atau dilakukan perbaikan nantinya,” katanya.
Gedung dua lantai tersebut dibangun pada 2007 hingga 2008 silam, yang kemudian dipergunakan pada 2009. “Sebenarnya sudah lama sebelum pandemic Covid-19 ada retak kecil dan kami sempat melakukan perbaikan kecil. Setelah pandemi karena lama tidak digunakan, ternyata ada pergerakan tanah,” pungkasnya.
Fatmawati, guru SMK 8 mengatakan kondisi belajar di luar ruang jelas membuat pelajar tidak merasa senang dan tidak fokus. Biasanya nyaman belajar dalam kelas, tiba-tiba pindah di luar. Kalau matahari terik kepanasan pelajar tidak fokus, apalagi terlihat ada kendaraan lalu lalang, mereka menoleh,” ungkap Fatmawati.
Penulis: */Nancy
Editor: Aspian Nur