“Terlebih fokusnya ini aspek pelestarian lingkungan, termasuk konservasi di dalamnya. Kedepan pasti akan berdampak pada pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia),” kata Sandiaga.
Sandiaga pun meminta seluruh wisatawan untuk menjadikan Sungai Mahakam dan kawasan, termasuk desa-desa di sekitarnya untuk menjadi destinasi wisata terutama melihat potensi Pesut, spesies ikan air tawar yang mirip Lumba Lumba itu.
“Upaya pelestarian pesut yang dilakukan warga desa juga semestinya bisa menjadi contoh, bisa menjadi daya tarik. Ini Eco tourism, melestarikan lingkungan untuk generasi mendatang,” imbuhnya.
Bicara potensi wisata, Desa Pela, memiliki kekayaan alam bahari. Desa Pela didominasi wilayah perairan, sehingga berpengaruh pada sumber mata pencaharian masyarakat yang mayoritas sebagai nelayan.
Desa Pela berjarak 130 km dari Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, atau dapat ditempuh dengan perjalanan selama 3 jam 26 menit menuju Dermaga Kota Bangun, lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal longboat selama 20 menit.
Desa Pela masuk dalam 50 desa wisata terbaik ADWI 2022 Kemenparekraf/Baparekraf. Desa ini selama setahun ke depan akan diberikan pendampingan dan pembinaan melalui program Tunas Kampung Berseri Astra (KBA).
Penulis: Permata S. Rahayu
Editor: Aspian Nur