"Kalau amblasnya ini subuh jam setengah lima, tetapi sudah gerak-gerak dari kemarin pagi," ujarnya saat ditemui di lokasi hari ini.
Ia pun menceritakan saat kejadian dirinya mendengar suara 'kretek-kretek' dan dengan sigap langsung membangunkan anak dan istrinya, serta tetangganya untuk keluar rumah.
"Ada suara kretek-kretek begitu, kalau yang kemarin gak keras, nah pas habis isya tadi malam tambah nyaring, terus istri saya bilang kok depannya rumah ini kok miring, makanya saya sama keluarga tidurnya gak nyenyak," sambungnya.
"Dan motor sudah tidak bisa saya keluarkan, karena posisinya miring dan di bawah itu jurang, kalau yang punya mobil juga sama, saya yang bangunkan," sambungnya.
Dalam musibah tersebut dari dua rumah, 10 jiwa terdampak yang mana masing-masing satu keluarga ada lima orang.
Rifai pun berharap kondisi ini bisa segera ditangani, dan sementara ia bersama keluarga pun akan tinggal di tempat keluarganya.
"Mau cepat ditangani, tetapi bilang petugasnya (BPBD) belum bisa karena tanah masih terus bergerak, paling gak tiga hari. Ini saya datang mau ngontrol saja," tandasnya.
Camat Sambutan, Yosua Laden mengatakan akibat longsor tersebut ada dua rumah terdampak.
"Jadi memang informasi sudah beberapa hari lalu, tetapi kami baru dapat laporan ini, dan saat ini dalam penanganan. Dan kami sudah melakukan koordinasi dengan PLN untuk memadamkan listriknya, PDAM karena ada pipanya yang patah, serta PUPR provinsi dalam penanganannya,"ungkapnya.
"Selain terdampak rumah juga ada kendaraan roda dua dan empat, tidak bisa keluar. Sedangkan penghuninya kami minta untuk tidak menempati dulu, dan diarahkan ke tempat keluarga," sambungnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso mengatakan untuk langkah awal bagi penghuni rumah dipastikan aman terlebih dahulu.
"Dan mereka ini sudah ditampung di tempat keluarganya dan saat ini relawan sedang membantu untuk mengevakuasi barang-barangnya," ujarnya.
Sedangkan untuk langkah jangka panjang, Suwarso mengaku saat ini telah berkoordinasi dengan PUPR Provinsi Kaltim dan Kota Samarinda serta Dishub.
"Mereka juga sudah ada di lapangan, dalam waktu dekat akan dilakukan kajian dalam waktu cepat, mudahan masuk dalam kategori darurat, sehingga tidak perlu anggaran tahun depan," ungkapnya.
Suwarso mengakui untuk kawasan tersebut masuk dalam rawan longsor. Juga, untuk kapasitas jalan hanya 8 ton, kemungkinan dilewati lebih dari kapasitasnya, sehingga berisiko mengalami pergerakan tanah.
"Selain itu, penyebabnya ya titik jenuh air yang mengendap, kan di pinggir jalan tidak ada drainase, itu juga menyebabkan pergerakan tanah, kan ini posisinya di jurang," bebernya.
Selanjutnya berdasarkan arahan provinsi, untuk kendaraan diminta untuk mengurangi bebannya, sehingga menjadi satu arah.
"Untuk kendaraan dari arah Makroman saja, kalau sebaliknya dialihkan," tandasnya.
Penulis: Nancy
Editor: Supiansyah