Pengelola resort Pratasaba, Slamet Harianto menyebutkan kondisi ini acap terjadi ketika arus deras berangkat dari arah Utara. “Sampah ini sebenarnya dari Malaysia, hanyut sampai ke sini,” jelas Slamet.
Pernyataan tersebut bukan tak berdasar. Pasalnya, setiap kali pihaknya menjaring atau memungut sampah, terlihat beragam kemasan plastik yang bertuliskan merk asal Negeri Jiran tersebut. Meski begitu, tak berarti seluruh sampah berasal dari negara tetangga.
“Ya ada juga yang dari Indonesia. Cuma rata-rata memang kalau diambil itu tulisannya punya Malaysia,” imbuh pria yang kerap disapa Een tersebut.
Karena kondisi tersebut, ia berharap ada bantuan dari pemerintah terkait. Khususnya kepada Pemprov Kaltim yang terus menggalakkan Pulau Maratua menjadi destinasi unggulan ekowisata di Bumi Etam.
Diharapkan ada bantuan berupa kapal pengangkut sampah untuk menjaring sampah-sampah tersebut agar bisa diangkat dari laut Maratua.
“Jadi enggak hanyut terus menerus begini. Bisa diangkut, untuk dibuang ke tempatnya,” papar Slamet.
Kalau dibiarkan terus menerus, selain akan hanyut ke tempat yang lebih jauh, keberadaan sampah-sampah tersebut juga akan mempengaruhi ekosistem di Laut Berau mengingat kehidupan biota laut pasti akan terganggu dengan air yang tercemar sampah tersebut.
Sementara di sisi lain, pihaknya selaku pengelola resort dan masyarakat di Pulau Maratua mati-matian menjaga ekosisten laut Maratua agar tidak rusak. Bahkan wisatawan dari berbagaid daerah yang berkunjung di Maratua pun terus mendapatkan imbauan untuk menjaga ekosistem.
“Mulai dari larangan memancing, larangan merusak terumbu karang. Terumbu karang kan butuh waktu lama untuk tumbuh. Makanya yang ada harus dijaga,” tutup Slamet.
Penulis: */Permata S Rahayu
Editor: Aspian Nur