Pasien itu adalah sahabat sang Wali Kota. Jelas saja Andi Harun kecewa. Pasalnya, rumah sakit itu dikatakan tak segera memberi tindakan medis kepada anak dari sahabat dekatnya yang tengah mengalami perdarahan karena kehamilan, dengan alasan belum diselesaikannya kelengkapan administrasi termasuk pembayaran.
Semua itu, disampaikan Andi Harun melalui unggahan di media sosial Facebook pada Minggu (17/5/2021) malam.
Keesokan harinya, ia bersama rombongan menyambangi rumah sakit dimaksud. Dan ternyata itu adalah
Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aisyiyah Samarinda.
Ia menemui langsung manajemen rumah sakit di kawasan Jalan Hidayatullah itu, guna melakukan evaluasi agar kejadian serupa tak terulang kembali.
Mantan Wakil Ketua DPRD Kaltim itu juga telah memberikan instruksi kepada perpanjangan tangannya pada bidang kesehatan yaitu Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, tak semata-mata dari kejadian tersebut pihaknya langsung memberikan sanksi, melainkan pembinaan terlebih dahulu. "Sanksi itu kalau sudah jalan terakhir, jadi kita bina dulu dan evaluasi," ucap Andi Harun Senin (17/5/2021).
Ia berharap, berkaca dari kasus yang ada, pelayanan publik di setiap rumah sakit dapat semakin berkualitas terkhusus kepada masyarakat yang kurang mampu sebab bersangkutan dengan nyawa manusia.
Sementara, Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih mengatakan pasca ini tentu akan memformulasikan langkah apa yang akan ditempuh dalam evaluasi tersebut. "Kami sudah turunkan tim untuk menghimpun semua data dari rumah sakit yang bersangkutan dan paling tidak saya akan memanggil semua rumah sakit yang ada di Samarinda," tegasnya.
Menghimpun data yang dimaksud itu ialah Standart Operasional Prosedur (SOP) internal rumah sakit, ia menegaskan jika ditemui SOP yang telah menyalahi aturan perundang-undangan maka dengan sendirinya akan gugur.
Sedangkan menurut Direktur RSIA Aisyiyah, dr Achlia Satijawati Dachlan mengaku telah menjalankan prosedur yang ada bahkan ia menegaskan persoalan uang panjar meskipun belum dipenuhi oleh pihak pasien tetap akan mendapatkan penanganan medis, namun kejadian tersebut menurutnya terjadi selisih komunikasi antara pihaknya dengan keluarga pasien. "Karena mungkin tidak semua orang bisa berkomunikasi dengan baik, mungkin faktor kelelahan," urainya.
Berdasarkan kejadian saat itu, pihaknya juga menduga bahwa pasien mengalami abortus atau kehamilan diluar kandungan, sehingga perlu adanya rawat inap guna menunggu jadwal Ultrasonografi (USG) lanjutan. "Jadi melihat kasusnya dulu, ada kasus yang kita bisa lakukan tindakan dan ada juga observasi, karena yang jaga dokter umum kita konsulkan ke dokter spesialis dan mendapat arahan harus rawat inap untuk USG lanjut," tandasnya.[]
Penulis : Claudius Vico
Editor : Rusdi