Diketahui Agama yang paling dominan di Mesir adalah Islam dan para penggemar diingatkan tindakan rasisme dan xenofobia merupakan tindak pidana, namun hal itu tak banyak berpengaruh terhadap apa yang terjadi di tribun penonton. Xenofobia sendiri adalah ketidaksukaan atau prasangka berlebihan terhadap orang asing atau kelompok yang dianggap berbeda baik budaya, ras maupun kebangsaan.
Yamal pun membalas ejekan para fans dengan mengunggah di Instagram Rabu (2/4/2026) hari ini. 'Saya seorang Muslim. Kemarin di stadion terdengar yel-yel "siapa yang tidak melompat adalah Muslim".
Saya tahu saya bermain untuk tim lawan dan itu bukan sesuatu yang ditujukan secara pribadi kepada saya, tetapi sebagai seorang Muslim, hal itu tetap tidak menghormati dan tidak dapat ditoleransi," tulis penyerang Barcelona itu.
"Saya mengerti tidak semua suporter seperti ini, tetapi bagi mereka yang menyanyikan hal-hal seperti itu, menggunakan agama sebagai bahan olok-olok di lapangan membuat kalian menjadi orang-orang yang tidak berpendidikan dan rasis. Sepak bola seharusnya dinikmati dan didukung, bukan untuk merendahkan orang lain karena jati diri atau keyakinan mereka," tulisnya lagi.
Manajer Spanyol Luis de la fuente mengatakan setelah pertandingan kalau fans yang melakukan hinaan bukan fans sepak bola.
"Mereka tidak mewakili sepak bola. Mereka memanfaatkan sepak bola, seperti yang mereka lakukan di bidang kehidupan lainnya. Kita perlu mengisolasi orang-orang ini dari masyarakat.
Saya merasa jijik sepenuhnya terhadap sikap xenofobik atau rasis apa pun. Sikap-sikap itu tidak dapat ditoleransi," tegas Fuente.
Asosiasi Sepak Bola Mesir (FA) memberikan komentar terkait insiden itu. "Kami dengan tegas menolak dan mengutuk perilaku semacam itu, termasuk sikap tidak hormat terhadap lagu kebangsaan. Tindakan-tindakan ini sama sekali tidak dapat diterima di stadion sepak bola dan merupakan fenomena negatif yang harus ditangani dan diberantas secara bersama-sama,' kata mereka.
"Apa yang terjadi sama sekali tidak dapat diterima, dan FIFA tetap berkomitmen untuk memerangi rasisme dan diskriminasi dalam sepak bola," imbuh mereka.
Rasisme dalam sepak bola Spanyol telah menjadi masalah yang semakin meningkat, dengan Vinicius Jr dari Real Madrid menyoroti masalah ini setelah mengalami pelecehan berulang kali selama bertahun-tahun.
Padahal Federasi Sepak Bola Spanyol RFEF sudah menegaskan menentang rasisme dalam sepak bola dan mengutuk segala bentuk kekerasan di dalam stadion.
FIFA sedang menunggu laporan dari ofisial yang bertugas di pertandingan tersebut sebelum memutuskan apakah akan mengambil tindakan lebih lanjut terkait apa yang dialami Yamal selama pertandingan berlangsung.
Editor: Aspian Nur