Peralatan tersebut dilaporkan digunakan selama tes stres, dengan Pintus mengatakan kepada Real Madrid TV masker tersebut dirancang untuk menentukan ambang batas aerobik dan anaerobik pemain serta daya mereka saat ini.
Masker tersebut bernama Cosmed K5, yang memungkinkan staf untuk mengukur tingkat VO2max yang tepat, yaitu laju maksimum tubuh dalam mengonsumsi dan menggunakan oksigen selama latihan intensitas tinggi.
”Mereka telah menggunakan peralatan canggih untuk melakukannya selama latihan. Hal ini menguntungkan para pelatih karena mereka dapat menguji para pemain dan melatih mereka pada saat yang sama,” ujar fisioterapis olahraga Ben Warbuton kepada BBC Sport.
“Jika semua pemain melakukan tes treadmill atau sepeda, itu akan sangat memakan waktu. Mereka akan kehilangan satu sesi latihan karena treadmill memiliki permukaan yang lebih keras dan berbeda dari rumput,” imbuhnya.
Pada dasarnya, hal ini menghemat waktu bagi klub karena memungkinkan mereka melakukan dua tugas sekaligus daripada menghabiskan dua kali lipat waktu yang tersedia.
Ada juga dampak berantai berupa penurunan risiko cedera karena informasi dikirim secara instan dan masalah seperti otot kaku dapat diidentifikasi sebelum menjadi lebih parah.
Ini bukan kali pertama Madrid menggunakan masker dan mereka membagikan video berjudul: Mask Comeback atau Masker Kembali! ke kanal YouTube mereka.
“Masker wajah ini memiliki desain yang sesuai dengan anatomi wajah dengan struktur pendukung bergelombang yang tahan lama untuk kenyamanan dan kebocoran minimal, serta cangkir dagu terintegrasi untuk stabilitas,” jelas Perusahaan Italia Cosmed yang memproduksi masker tersebut.
Menurut The Athletic, setiap set masker berharga £26.000, setara dengan Rp600 Juta dengan beberapa diantaranya dipinjamkan oleh klub.
Pintus, yang berada di balik ide ini, pertama kali bergabung dengan Madrid pada 2016 dan telah menggunakan masker ini sejak 1990-an saat ia berada di Monaco.
Masker ini juga digunakan di Madrid di bawah kepemimpinan Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane, serta sesekali saat Xabi Alonso menjadi pelatih.
Editor: Aspian Nur