Awalnya Yamal dipanggil pada 7 November lalu untuk pertandingan melawan Georgia dan Turki, namun Spanyol kemudian melepas Yamal tiga hari kemudian setelah mengetahui pemain berusia 18 tahun itu menjalani prosedur penyembuhan pada hari yang sama saat tim mulai berlatih.
Manajer Spanyol Luis de la Fuente pun ikut angkat bicara mengenai situasi itu. Pelatih berusia 64 tahun itu memberikan pandangannya dan mengungkapkan keterkejutannya atas tidak adanya komunikasi sama sekali setelah Mundo Deportivo melaporkan Barcelona baru memberitahu Spanyol tentang prosedur tersebut pada pukul 10:40 malam, berjam-jam setelah dia seharusnya melapor untuk bertugas.
"Ini tidak terlihat normal bagi saya," katanya dalam wawancara dengan RNE Rabu (12/11/2025) hari ini.
"Saya belum pernah mengalami situasi serupa. Ini adalah prosedur yang terjadi di luar kendali tim nasional, itulah yang terjadi, dan kita harus menerimanya. Saya terkejut seperti orang lain karena kami tidak mendapatkan berita atau mengetahui detailnya, mereka memberitahu kami dan kami hanya bisa terkejut," paparnya.
Asosiasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) menyebut operasi tersebut sebagai sesuatu yang sangat invasive dan mengekspresikan keterkejutan mereka atas kebutuhan pemain tersebut untuk menjalani operasi.
"Layanan Medis RFEF ingin mengekspresikan keterkejutan dan ketidaknyamanan mereka setelah mengetahui pada pukul 13:47 pada Senin, 10 November, hari dimulainya kamp latihan resmi bersama tim nasional, Lamine Yamal telah menjalani prosedur radiofrekuensi invasif untuk pengobatan gangguan cedera," bunyi pernyataan RFEF.
“Prosedur ini dilakukan tanpa komunikasi sebelumnya dengan staf medis tim nasional, dengan detailnya hanya diketahui melalui laporan yang diterima pada pukul 22:40 malam kemarin, yang menunjukkan rekomendasi medis untuk istirahat selama 7-10 hari. Mengingat situasi ini dan memprioritaskan kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan pemain, Federasi Sepak Bola Spanyol telah memutuskan untuk melepaskan Yamal dari timnas. Kami yakin dia akan pulih dengan baik dan mendoakan pemulihan yang cepat dan penuh,” papar mereka.
Tak pelak situasi yang terjadi itu membuat Yamal berada ditengah badai perselisihan antara klub dan negara yang telah berkembang selama berbulan-bulan.
Bintang Barcelona ini telah absen dalam beberapa pertandingan musim ini dengan apa yang klubnya gambarkan sebagai masalah cedera di area pubis. Menurut publikasi Spanyol Sport, kondisinya disebut Pubalgia, dengan para petinggi klub khawatir rasa sakitnya bersifat kronis dan tidak dapat disembuhkan.
Pubalgia adalah kondisi yang menyebabkan otot-otot berkumpul di area selangkangan, menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan, bukan karena regangan atau tarikan otot, yang biasanya dialami oleh pemain sepak bola di area tubuh tersebut. Kadang-kadang disebut sebagai hernia olahraga dan disebabkan oleh ketidakseimbangan otot di area selangkangan dan perut.
Terapi fisik dan istirahat biasanya menjadi pengobatan yang digunakan untuk meredakan masalah ini, namun tampaknya Yamal telah mengambil langkah lebih jauh dengan pendekatan invasive untuk meredakan ketidaknyamanannya.
Setelah jeda internasional di awal musim, manajer klub Yamal Hansi Flick mengkritik tim nasional Spanyol karena memaksa Yamal berlatih terlalu keras secara fisik padahal ia sedang mengalami masalah tersebut.
“Lamine pergi ke tim nasional dengan rasa sakit, tidak berlatih dan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit untuk bermain. Mereka unggul tiga gol di setiap pertandingan dan ia bermain selama 79 dan 73 menit. Diantara pertandingan, dia tidak berlatih. Ini bukan cara merawat pemain. Spanyol memiliki tim terbaik di dunia dan di setiap posisi mereka luar biasa bagus. Jadi saya benar-benar sedih tentang ini," papar pelatih Barcelona asal Jerman itu.
Yamal adalah pemain muda paling terkenal di dunia sepak bola dan dilaporkan mendapatkan gaji luar biasa sebesar £325.000 per minggu di klub raksasa Spanyol, setara dengan Rp7,1 Miliar.
Pubalgia sering dialami oleh pemain muda yang masih berkembang secara fisik dan Yamal sudah bermain dalam jumlah yang tidak biasa di level senior untuk usianya. Dia muncul di panggung sepak bola pada usia 15 tahun dan sudah memenangkan dua gelar LaLiga, satu piala domestic dan Piala Super Spanyol, serta Euro 2024.
Mantan bintang Barcelona Lionel Messi adalah satu dari beberapa pemain yang mengalami masalah serupa di area pangkal paha dan memberikan harapan bagi Yamal, klubnya, dan negaranya masalah tersebut dapat diatasi dan akan membaik seiring waktu.
“Pubalgia itu rumit. Saya menderita masalah ini sudah cukup lama, saya hanya melakukan sedikit latihan dan tidak bisa bermain di semua pertandingan. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam semalam. Saya merasa lebih baik sekarang, tapi saya belum sepenuhnya pulih dan masih membutuhkan perawatan,” ungkap Messi dalam wawancara dengan stasiun radio Buenos Aires club94.7 enam tahun lalu.
Editor: Aspian Nur