Kasus ini bermula pada tahun 2014, ketika Diarra mencoba mengakhiri kontraknya dengan Lokomotiv Moscow, klub asal Rusia, untuk bergabung dengan klub Belgia Charleroi namun FIFA menolaknya.
Sepuluh tahun kemudian, pada Oktober 2024, CJEU memenangkan gugatan tersebut. Kini, dengan dukungan penuh dari Fédération Internationale des Associations de Footballeurs Professionnels (FIPRO), organisasi sepak bola internasional yang mewakili para pemain sepak bola profesional di seluruh dunia, Diarra kembali mengajukan tuntutan.
"Saya terpaksa menghadapi pertempuran hukum ini sejak Agustus 2014, lebih dari 11 tahun," ucap Diarra melansir dari Marca.com Selasa (19/8/2025) hari ini "Saya mampu melawan gebrakan FIFA karena saya memiliki karier yang gemilang ," tegasnya.
Apa yang dilakukannya menurut Diarra untuk mengingatkan kalau perjuangan ini juga untuk pemain-pemain yang menjanjikan dan kurang dikenal yang tidak memiliki kemampuan finansial dan psikologis untuk menghadapi FIFA dihadapan hakim. "FIFA dan Asosiasi Sepak Bola Belgia kalah dihadapan CJEU, disemua lini!," tegas Diarra.
Pemain berusia 40 tahun itu mengecam keputusan FIFA tersebut untuk memodifikasi peraturannya dengan cara yang tidak memenuhi persyaratan ketat putusan tersebut dan mengakui dirinya menunggu berbulan-bulan untuk kesepakatan damai tetapi tidak pernah tercapai.
"Ini mencerminkan budaya yang terus mengabaikan aturan hukum dan para pemain," ucap mantan yang terakhir membela Real Madrid itu.
"Setelah putusan CJEU, jika tidak ada solusi damai, langkah logis berikutnya adalah kembali ke pengadilan nasional untuk penegakan hukum. Itulah yang sedang kami lakukan sekarang," kata Martin Hissel, perwakilan hukum CJEU.
Menurut Martin, pengadilan Belgia harus memutuskan dalam waktu 12 hingga 15 bulan , dengan FIFA dan Asosiasi Sepak Bola Belgia bertanggung jawab bersama atas segala kerugian.
“Berdasarkan putusan CJEU, semua pemain yang telah atau harus melanjutkan karier mereka dibawah aturan FIFA yang melanggar hukum (semua pemain profesional yang telah bermain atau sedang bermain di Negara Anggota Uni Eropa atau Inggris sejak 2002) berhak atas kompensasi," paparnya.
Sementara FIFPRO menekankan kasus ini terus berlanjut karena FIFA tidak pernah menunjukkan kesediaan nyata untuk mencapai penyelesaian.
"Keputusan untuk melanjutkan sengketa ini diambil setelah upaya penyelesaian damai yang gagal, karena FIFA menolak untuk terlibat secara konstruktif," demikian pernyataan organisasi tersebut.
Mereka juga menegaskan komitmen mereka kepada Diarra. "FIFPRO, FIFPRO Eropa dan UNFP terus memberikan dukungan penuh agar Lassana Diarra menerima kompensasi yang dijamin oleh undang-undang yang berlaku di Belgia dan Uni Eropa," tegas mereka.
Apa yang disebut "keputusan Diarra" menandai titik balik, membuka pintu bagi para pesepak bola untuk menuntut kompensasi atas kerugian yang mereka derita dan memaksa FIFA untuk mereformasi peraturannya agar sesuai dengan hukum Eropa. Putusan itu juga memperkuat gagasan tidak ada badan olahraga yang dapat menempatkan dirinya di atas hukum Eropa.
Editor: Aspian Nur