Tak ada keraguan setelah pemungutan suara oleh 133 juri internasional , termasuk jurnalis Marca, jurnalis dari semua media di Spanyol dan seluruh dunia serta mantan pesepak bola dan pelatih.
Dengan total 3.310 poin, Lamine Yamal menjadi pemain dengan skor tertinggi dalam sistem pemungutan suara dimana setiap juri harus memilih 10 teratas mereka dari 100 nominasi dengan 30 poin untuk juara pertama, 25 untuk juara kedua dan 23 untuk juara ketiga. Sebanyak 3.310 poin yang diraih pemain internasional Spanyol itu jauh mengungguli Dembélé (3.100) dan Vitinha (2.732).
Lamine, yang menempati posisi keempat dalam peringkat 100 Teratas Marca musim 2023-24 dibelakang Vini Jr, Bellingham dan Rodri Hernández, naik tiga peringkat untuk meraih gelar tahun ini.
Bahkan absennya sang pemain sayap di FIFA Club World Club 2025 atau Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat lalu, tidak menghalangi penampilannya dalam mengalahkan Dembélé yang mencapai final bersama PSG.
Meskipun daftar pendek dan pemungutan suara dimulai sebelum turnamen di Amerika Serikat berlangsung, banyak anggota juri yang mengeluarkan keputusan mereka selama atau diakhir turnamen. Yamal akhirnya menang dengan selisih 210 poin atas Ousmane yang juga menjalani musim yang sensasional bahkan disebut calon peraih gelar Ballon d’Or.
Secara individu, musim Lamine Yamal bersama Barcelona sudah luar biasa, sembilan gol dan 15 assist di LaLiga, lima gol dan empat assist di Liga Champions, dua gol dan enam assist di Copa del Rey dan dua lagi di Piala Super Spanyol. Total pemain sayap ini mencetak 18 gol dan 25 assist. Sebuah peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan 7+9 yang ia catat pada musim 2023-24.
Selain itu tentu saja level pasca Euro 2024 yang masuk dalam Top 100 MARCA edisi sebelumnya bersama Spanyol tetap tinggi, tiga gol dan satu assist bersama La Roja, menjadi protagonis di UEFA Nations League atau Liga Bangsa-Bangsa UEFA.
Di level tim, musim gemilang pertamanya bersama Blaugrana diraih Lamine dengna mengangkat trofi LaLiga, Copa del Rey dan Piala Super Spanyol, musim yang berpotensi bersejarah setelah kalah dari Inter Milan di semifinal Liga Champions dalam pertandingan yang epik. Sebuah standar yang sangat tinggi yang belum pernah dilampaui siapa pun.
Editor: Aspian Nur