Di New Jersey selama perhelatan Piala Dunia Antarklub 2025 berlangsung, tim yang sejatinya berstatus semi profesional itu mengungkap sesuatu yang tak terduga setelah berhasil menahan imbang 1-1 raksasa Amerika Latin, Boca Juniors .
Prestasi Auckland City itu tidak hanya menjadi tonggak sejarah olahraga bagi skuad dari Oseania yang sederhana karena mendatangkan suntikan dana yang belum pernah terjadi sebelumnya, 930.000 Euro (satu juta dolar) atau setara dengan Rp16,4 Miliar.
Angka itu 11.111 kali lebih banyak dari yang diperoleh setiap pemain setiap pekan, yaitu hanya 84 Euro, setara dengan Rp1,5 Juta. Kontrasnya sangat mencolok. Pemain Auckland City memiliki pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup
Salah satu hal yang paling mencolok adalah seperti yang dirasakan penjaga gawang pengganti Auckland City, Sebastian Ciganda.
Dalam sebuah wawancara dengan DSports Radio, media local setempat, Sebastian mengungkap fakta. "Saya membersihkan kolam renang dan jacuzzi (bak mandi). Saya meminta waktu istirahat dari pekerjaan atau saya akan mengundurkan diri. Saya tidak dibayar selama kami berada di Amerika Serikat," ungkap kiper berusia 31 tahun itu.
Namun hal itu tak membuat Sebastian kecewa karena uang hadiah yang didapatkan selama berlaga di FIFA Club World Cup akan dibagi dengan seluruh staf dan skuat.
Hadiah ini diberikan berkat peraturan Piala Dunia Antarklub, yang menetapkan hadiah sebesar satu juta dolar (930.000 euro) untuk setiap undian babak penyisihan grup. Sejatinya nilai tersebut sangat kecil bagi klub lain yang berlaga, tapi pendapatan terbesar dalam sejarah Auckland City.
Saat laga melawan Boca Juniors, gol yang memicu euforia itu dicetak oleh Christian Gray, penyerang yang seperti banyak pemain lain di tim, membagi waktunya antara bermain di lapangan dan mengajar. Gray adalah guru pendidikan jasmani di Sekolah Mount Roskill dan bagian dari program ACFC in the Community.
Di usianya yang ke-27, Gray mencetak gol dari tendangan sudut pada menit ke-52 dan merayakannya dengan penuh emosional. Itu adalah gol pertama dan satu-satunya untuk Auckland di turnamen itu dan sudah cukup untuk membuat mereka seolah “menyentuh langit”. Boca Juniors sendiri tersingkir karena tidak bisa mengalahkan tim Cinderella itu.
Auckland City bahkan bukan klub utama di kota mereka karena ada Auckland FC yang berkompetisi di A-League Australia dan menawarkan gaji pokok sekitar €65.000 per tahun (setara dengan Rp1,1 Miliar).
Navy Blues, julukan Auckland City, bermain di liga regional Utara Pulau Selandia Baru berstatus semi amatir dan para pemain mereka biasanya menerima sekitar €93 per pertandingan . Wajar kalau hasil imbang atas Boca Juniors dihargai mahal mengingat perbedaannya mereka dengan raksasa Argentina itu sangat besar.
Para pemain Auckland City sendiri tidak menerima gaji tetap dari tim, yang memaksa mereka untuk menjalani kehidupan profesional lainnya.
Hasil imbang melawan Boca Juniors menandai titik balik bagi tim yang berangkat ke Amerika Serikat dengan kerendahan hati, kerja keras dan impian serta kembali ke rumah dengan uang sebesar 930.000 Euro.
Editor: Aspian Nur