Dan Kota London dipastikan kembali meriah usai Chelsea merengkuh piala UEFA Conference League 2024/2025 usai memberondong gawang klub Spanyol Real Betis 1-4 pada laga final di Wroclaw Stadium, Polandia, Kamis (29/5/2025) dini hari tadi.
The Blues memboyong piala ke Kota London dengan diawali rasa waswas karena tertinggal 1-0 lewat gol Abde Ezzalzouli menit 9. Kecerdikan pelatih Enzo Fernandez yang mengubah gaya permainan pada babak kedua membuat kiper mereka Filip Jorgensen nyaris tak terlihat menangkap bola karena buntunya serangan Betis.
Empat gol pun berhasil disarangkan Chelsea setelah bermain setengah lapangan lewat gol-gol yang dicetak kapten Enzo Fernandez menit 65, Nicolas Jackson lima menit berselang, sepakan Jadon Sancho menit 83 dan gol penutup di injury time 91 dari aksi Moises Caicedo.
Skor 1-4 bertahan hingga bubaran yang memastikan Si Biru menorehkan rekor luar biasa. Mereka jadi klub pertama dalam sejarah yang berhasil memenangkan seluruh kompetisi besar UEFA yaitu Liga Champions, Liga Europa, Piala Winners dan kini UEFA Conference League.
Pemain timnas Inggris Cole Palmer memang tidak mencetak gol dipertandingan ini, namun Palmer memberikan dua assist untuk dua gol yang dicetak Chelsea sekaligus menjadikannya pemain pertama yang melakukannya dalam final kompetisi Eropa utama sejak bek Real Madrid Marcelo kala Los Blancos menghadapi Liverpool pada final Liga Champions 2018.
Khusus untuk Enzo Fernandez, pemain timnas Argentina berusia 24 tahun 131 hari itu jadi kapten termuda kedua yang memimpin klub Inggris menjuarai final Eropa, hanya kalah dari Bobby Moore yang memperkuat West Ham di tahun 1965.
“Semoga ini bisa menjadi titik awal untuk membangun mentalitas pemenang. Kami perlu memenangkan pertandingan dan juara di kompetisi ini untuk mendapatkan itu,” tegas Maresca melansir dari laman dailymail.co.uk pagi ini.
“Saya sangat bangga dengan jalan atau perjalanan yang telah kami lakukan di Premier League. Namun bagi saya, ini adalah kompetisi tersulit di dunia. Anda harus konsisten dalam 38 pertandingan dan para pemain menunjukkannya,” paparnya.
Chelsea mencetak 45 gol dalam 15 pertandingan mereka, termasuk babak play-off, 19 gol lebih banyak dari Betis dan kualitas yang lebih besar dari tim asuhan Maresca pada akhirnya terlihat - meskipun tidak sebelum the Blues mendapatkan kejutan besar. “Kita semua tahu Cole Palmer adalah seorang pemain top,” puji Maresca.
“Kami harus membantunya untuk berada di posisi yang tepat di saat yang tepat. Dan dia adalah pemain yang berkualitas. Ia bisa menentukan dengan gol atau assist, dan dua assistnya sangat bagus,” imbuh pria asal Italia itu.
“Kami meningkatkan intensitas dan menampilkan performa yang baik di babak kedua,” ujar Palmer. “Saya tidak senang mendapatkan bola dan hanya bergerak ke belakang dan ke samping. Yang pertama (gol) ada sedikit ruang dan saya melihat Enzo berlari. Yang kedua, sama lagi. Saya merasa kami kembali menunjukkan karakter yang baik untuk bangkit,” ungkap pemain 23 tahun itu.
Keberhasilan Chelsea meraih gelar juara membuat musim 2024/25 jadi musim pertama dalam sejarah di mana lima klub Inggris berbeda memenangkan trofi besar: Liverpool (Premier League), Crystal Palace (FA Cup), Newcastle (League Cup), Tottenham (Europa League) dan Chelsea (Conference League).
Chelsea juga dipastikan jadi wakil Inggris ke Liga Champions musim 2025/2026 mendatang bersama Liverpool, Arsenal, Manchester City, Newcastle United dan Tottenham Hotspur.
Pelatih Real Betis Manuel Pellegrini menganalisis kekalahan timnya. "Kami bermain sangat baik di babak pertama , kami unggul , kami mencetak gol dan memiliki beberapa peluang lagi. Babak kedua sangat dipengaruhi oleh pergantian pemain . Mereka lebih banyak menyulitkan kami di sisi kiri. Mereka membalikkan keadaan dalam beberapa menit," sebut Pellegrini.
"Kami ingin menyamakan kedudukan. Kami tidak bisa melakukannya. Kami sangat bangga dengan para fans, atas dukungan mereka yang tiada henti. Kami ingin memberi mereka kegembiraan karena memenangkan final, tetapi kami tidak bisa mengulang penampilan kami di babak pertama di babak kedua," ujar pria asal Chile yang pernah melatih Manchester City itu.
Gelandang Betis Isco menyesalkan kekalahan timnya meski Verdiblancos tampil kuat di babak pertama. "Menyakitkan. Hasil yang sangat berat setelah apa yang terlihat di babak pertama, tetapi sepak bola tidak kenal ampun dan meskipun memiliki babak pertama yang bagus, di mana mereka hampir tidak memiliki peluang, di babak kedua mereka mengalahkan kami. Menyakitkan karena kami sudah sangat dekat. Kami tidak tahu bagaimana memanfaatkan keunggulan di papan skor, sesuatu yang telah menghukum kami hampir sepanjang musim dan di final Eropa itu sangat menghukum," papar mantan pemain Real Madrid ini.
Editor: Aspian Nur