Penghapusan gol tandang mulai digaungkan sejak musim 2019/2020, tepatnya sejak pandemic Covid-19 melanda dunia saat laga terutama ajang Liga Champions dan Europa League harus dimainkan di tempat netral tanpa penonton. Saat itu dengan adanya aturan gol tandang, tuan tumah ragu untuk menyerang karena bakal menjadi sebuah kerugian bila gawang mereka kebobolan.
Karena aturan gol tandang dihapus, UEFA pun menyiapkan gantinya dimana dua periode perpanjangan waktu selama 15 menit akan dimainkan di akhir leg kedua, diikuti dengan adu penalti bila kedua tim masih seri.
"Dampak dari aturan tersebut sekarang bertentangan dengan tujuan awalnya karena, pada kenyataannya, sekarang menghalangi tim tuan rumah - terutama di leg pertama - dari menyerang, karena mereka takut kebobolan gol yang akan memberikan lawan mereka keuntungan penting," kata Presiden UEFA Aleksander Ceferin dikutip dari uefa.com
"Ada juga kritik atas ketidakadilan, terutama di perpanjangan waktu, yang mewajibkan tim tuan rumah mencetak dua gol ketika tim tamu telah mencetak gol. Keuntungan tuan rumah saat ini tidak lagi signifikan seperti dulu," imbuhnya. Keputusan untuk menghapus aturan gol tandang diambil oleh Komite Eksekutif UEFA mengikuti rekomendasi dari Komite Kompetisi Klub dan Komite Sepak Bola Wanita.
Penghapusan gol tandang oleh UEFA itu tak cuma berlaku di fase gugur. Dengan dihilangkannya sistem tersebut, gol tandang juga tak akan dipakai dalam menentukan peringkat di fase grup andai ada dua atau lebih tim memiliki poin sama yang akan jadi penentunya adalah produktivitas gol.
Penulis/Editor: Aspian Nur