Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Muhammad Darlis Pattalongi, menilai rencana tersebut berpotensi menimbulkan polemik baru di tengah masih rendahnya kesejahteraan guru.
Kondisi saat ini, menunjukkan bahwa perhatian terhadap tenaga pendidik masih jauh dari ideal, terutama dari sisi gaji dan kesejahteraan. Oleh karena itu, wacana penghapusan jurusan kependidikan dinilai tidak tepat dan justru kontraproduktif.
“Sudah kesejahteraan guru belum maksimal, kemudian muncul wacana penghapusan jurusan kependidikan. Ini tentu menjadi polemik. Kita berharap wacana tersebut tidak benar-benar dilaksanakan oleh pemerintah pusat,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan, fokus utama saat ini seharusnya diarahkan pada peningkatan kesejahteraan dan kualitas guru, bukan justru mengurangi jalur pendidikan yang mencetak tenaga pendidik.
Darlis juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten/kota dalam memperkuat sektor pendidikan.
“Kita perlu bersama-sama memikirkan bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru dan juga kualitas mereka. Harus ada sinergi antarlevel pemerintahan agar perhatian terhadap tenaga pendidik tidak menurun,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan kebijakan penghapusan jurusan kependidikan berpotensi memperburuk kondisi tenaga pengajar di daerah, termasuk di Kaltim yang saat ini masih mengalami kekurangan guru.
Dari sisi kuantitas, kebutuhan tenaga pengajar di Kaltim dinilai masih jauh dari terpenuhi, banyak sekolah khususnya SMK, mengalami kekurangan guru produktif.
Kondisi serupa juga terjadi di SLB, yang bahkan disebut hampir tidak memiliki tenaga pengajar yang memadai.
“Di Kaltim ini kebutuhan guru masih sangat tinggi. Banyak sekolah kekurangan guru, terutama di SMK untuk guru produktif. Belum lagi di SLB, tenaga pengajarnya sangat minim,” ungkapnya.
Darlis berharap, wacana penghapusan jurusan kependidikan hanya sebatas rencana yang tidak direalisasikan. Sebaliknya, ia mendorong agar pemerintah lebih fokus pada upaya peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru sebagai pilar utama pendidikan.
“Harapannya, guru kita justru semakin diperhatikan, baik dari sisi kesejahteraan maupun kualitasnya,” pungkasnya.
Editor: Erwin