Kepala SMP Negeri 2 Samarinda, Misradianto, mengungkapkan sebanyak 256 siswa dari delapan kelas terdampak akibat kebakaran. Kondisi ini memaksa sekolah menerapkan skema pembelajaran campuran.
“Sebagian kelas dilakukan secara daring dan sebagian lagi tatap muka bergantian. Ini hanya sementara sampai pertengahan Mei,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ruang kelas di lantai bawah sebenarnya tidak mengalami kerusakan parah. Namun, karena bagian atas masih dalam proses perbaikan, aktivitas belajar di area tersebut juga ikut terdampak.
Meski begitu, pihak sekolah memastikan kegiatan belajar tetap berjalan. Penyesuaian dilakukan agar siswa tetap mendapatkan hak pembelajaran secara optimal.
“Biasanya semua belajar pagi, sekarang ada yang online. Tapi tetap kita atur supaya tidak mengganggu proses belajar secara keseluruhan,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala Disdikbud Samarinda, Ibnu Arby, memastikan tidak ada relokasi siswa ke sekolah lain. Menurutnya, fasilitas yang masih tersedia dinilai cukup untuk menunjang kegiatan belajar.
“Kita tidak memindahkan siswa. Pembelajaran tetap dilakukan di sekolah dengan memanfaatkan ruang yang ada seperti laboratorium dan kelas alternatif,” jelasnya.
Ia juga menyebut, pemerintah telah membentuk tim untuk menangani dampak kebakaran, termasuk melakukan evaluasi kondisi bangunan bersama instansi terkait.
Saat ini, proses pembersihan terus dilakukan oleh sejumlah OPD seperti BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, hingga Dinas PUPR. Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan untuk memastikan kelayakan struktur bangunan, khususnya di lantai dua.
“Kalau memang tidak layak, bisa saja dibongkar. Targetnya, pembangunan kembali mulai Mei,” tutupnya.
Editor: Erwin