Proses penerimaan siswa sepenuhnya masih menunggu instruksi dari Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia.
“Jadi kalau belum ada arahan rekrutmen kami tidak akan melaksanakan,” tegas Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinsos PM Samarinda, Sofyan Agus.
Kendati demikian, ia berharap fasilitas baru tersebut dapat segera difungsikan. Jika gedung di Palaran belum rampung, Sofyan memastikan dua lokasi sekolah yang ada saat ini tetap dioptimalkan agar proses belajar mengajar tidak terhenti.
Mengenai mekanisme penjaringan, warga yang berminat diperbolehkan melapor melalui pendamping sosial untuk didata sementara sebagai cadangan.
“Jadi istilahnya kami simpan dulu sampai nanti arahan kuotanya dibuka baru kita proses,” imbuhnya.
Adapun syarat utama masuk SR adalah kesepakatan antara anak dan orang tua tanpa unsur paksaan. Tetapi, menyelaraskan kemauan kedua pihak sering kali menjadi tantangan di lapangan, sehingga diperlukan pendekatan khusus.
“Kadang orang tuanya menolak anaknya mau, begitupun sebaliknya. Kalau salah satu menolak kita tidak bisa proses, karena Kemensos prinsipnya adalah tidak ada paksaan untuk masuk ke SR,” paparnya.
Saat ini, kapasitas pada dua sekolah eksisting mencakup sekitar 200 siswa. Masih terdapat sisa kuota yang belum terpenuhi, yakni empat orang di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan 12 orang di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), dengan kebutuhan terbanyak pada tingkat SD.
“Maklum usia segitu untuk SR yang berpisah dengan orang tua dan tidur dengan teman-teman,” tambahnya.
Dinsos PM pun memastikan fasilitas bagi siswa yang ada telah terpenuhi secara layak, mulai dari seragam, laptop penunjang belajar, hingga jaminan konsumsi tiga kali sehari.
Terkait aktivitas siswa di BPMP dan BPVP saat ini, Sofyan menjelaskan adanya penyesuaian program selama bulan suci Ramadan.
Editor: Erwin