Menurutnya, amanah yang diberikan Bupati Kukar harus dijalankan dengan membangun tim kerja yang solid dan profesional. Peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa dilakukan dengan asumsi, melainkan harus berangkat dari data yang akurat.
“Kita harus bekerja dengan data, bukan menerawang. Berapa sekolah yang rusak berat, rusak sedang, rusak ringan, semuanya harus jelas. Dari situ baru kita bisa menentukan intervensi yang tepat,” Heriansyah kepada Korankaltim.com, Minggu (8/2/2026).
Ia menilai, tantangan terbesar dalam dunia pendidikan bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi perubahan perilaku dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu, penurunan angka putus sekolah dan peningkatan mutu peserta didik menjadi prioritas utama.
“Kita harus menciptakan SDM yang unggul. Unggul itu bukan hanya pintar, tapi juga berintegritas, punya kompetensi, skill, dan daya tahan menghadapi tantangan era industri,” tegasnya.
Heriansyah juga menyinggung berbagai persoalan klasik di sektor pendidikan, seperti guru honorer dan fasilitas sekolah. Namun ia menegaskan, seluruh persoalan tersebut harus melalui tahapan inventarisasi dan pemetaan masalah secara menyeluruh sebelum dirumuskan dalam program kerja.
“Saya baru dilantik, tentu harus konsolidasi dulu, inventarisasi dulu. Kita cari akar masalahnya, baru kita intervensi dengan program yang benar-benar berdampak,” jelasnya.
Selain pendidikan, Heriansyah menekankan pentingnya pemanfaatan budaya sebagai kekuatan pembangunan. Menurutnya, nilai-nilai budaya seperti kerja keras dan kejujuran harus menjadi fondasi dalam membangun sektor pendidikan di Kukar, terutama dalam menghadapi era pascatambang.
“Pasca sumber daya alam, yang paling penting kita siapkan adalah manusia. Negara maju itu kuat karena ekosistem pendidikannya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi dari ekosistem pendidikan yang kuat. Keberadaan lembaga pendidikan berkualitas, termasuk perguruan tinggi, dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan berbasis data, konsolidasi internal, dan pembangunan SDM berkelanjutan, Kadisdikbud Kukar yang sebelumnya menjabat Inspektor Kukar ini optimistis sektor pendidikan Kukar mampu menjadi fondasi utama pembangunan daerah ke depan.
“Kalau pariwisata, orang datang mungkin satu minggu. Tapi pendidikan, orang tinggal bisa empat tahun atau lebih. Dampaknya ke kos-kosan, UMKM, transportasi, itu luar biasa,” pungkasnya.
Editor: Erwin