Seiring berjalannya waktu, jumlah siswa SRT 57 mengalami penyusutan. Dari semula tercatat 66 siswa berdasarkan data awal, kini sebagian tidak kembali lagi meski telah terdaftar secara resmi.
“Ada siswa tidak lagi mengikuti kegiatan di sekolah, namanya sudah di SK-kan tapi tidak balik lagi, jadi 66 orang kemarin sudah berubah,” kata Kepala SRT 57 Samarinda Pahrijal, Senin, (1/12/2025).
Saat ini, jumlah peserta didik tercatat 56 orang, terdiri dari 19 siswa tingkat SD, 20 siswa SMP, dan 17 siswa SMA. Artinya, terjadi pengurangan sebanyak 10 siswa dari data awal.
Pahrijal menyatakan, pengurangan tersebut bukan disebabkan persoalan teknis di sekolah. Salah satu faktor utama berasal dari kondisi keluarga, termasuk orang tua yang pindah domisili ke luar daerah sehingga anak ikut dibawa.
Selain itu, terdapat satu siswa tingkat SMP yang tidak melanjutkan pendidikan karena minimnya minat belajar. Pihak sekolah sempat memberi waktu lebih dari satu bulan hingga hampir dua bulan untuk melihat perkembangan.
“Anaknya tetap kami layani seperti biasa, makan dan minum tetap kami perhatikan. Sore hari dia aktif bermain, tetapi untuk mengikuti pembelajaran reguler tidak ada kemauan,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah mengajak orang tua untuk berdiskusi mencari solusi terbaik. Pahrijal menegaskan pihaknya tidak serta-merta memberhentikan siswa tersebut, melainkan menyarankan agar anak dimasukkan ke Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Siapa tahu dalam rentang tiga tahun ke depan semangat belajarnya tumbuh. Di PKBM juga tidak harus belajar setiap hari, hanya di akhir pekan,” terangnya.
Terkait proses belajar mengajar, sistem pendidikan di SRT 57 tidak berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pola semester, mata pelajaran, hingga pengisian rapor tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. Kegiatan belajar reguler berlangsung aktif dari Senin hingga Jumat.
“Sabtu dan Minggu tetap anak-anak di sini, tapi fokusnya kegiatan asrama,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan sarana, dirinya mengapresiasi kinerja para guru yang dinilainya tetap kreatif dalam menjalankan proses pembelajaran. “Alhamdulillah guru-guru jalan terus, dengan keterbatasan yang ada tetap maksimal,” pungkasnya.
Editor: Erwin