Seorang murid berusia 10 tahun mengalami patah tulang pada bagian kaki setelah diduga terkena tendangan temannya saat bermain di lingkungan sekolah.
Kasus ini memicu perhatian masyarakat karena terjadi di jenjang pendidikan dasar, di mana anak-anak masih berada pada proses awal pembentukan karakter dan kemampuan bersosialisasi.
Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, menjelaskan bahwa berdasarkan laporan awal, peristiwa tersebut tidak terjadi dalam konteks kekerasan terencana. Ia menegaskan anak-anak pada usia tersebut kerap menganggap interaksi fisik sebagai bagian dari permainan.
“Anak kecil itu belum mengerti tentang bullying. Bagi mereka, bermain itu hal biasa. Kadang ada dorong-dorongan atau tendangan,” ujarnya.
Namun, salah satu tendangan dalam momen bermain itu berujung pada cedera serius. “Dari laporan yang kami terima, ada anak yang terkena tendangan hingga mengalami patah tulang pada bagian kaki,” jelasnya.
Pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat dengan mempertemukan orang tua kedua pihak. Mediasi berjalan lancar dan menghasilkan kesepakatan damai.
“Sekolah sudah menjembatani komunikasi. Orang tua siswa yang melakukan tindakan itu bersedia membantu proses pemulihan korban. Tidak ada tuntutan lanjutan,” tambah Asli.
Hingga kini, kasus tersebut telah ditangani secara internal oleh pihak sekolah dan keluarga tanpa proses hukum.
Meski sudah diselesaikan, Disdikbud Samarinda mengingatkan pentingnya peningkatan pengawasan terhadap aktivitas siswa, khususnya pada jam istirahat dan kegiatan di luar kelas.
“Kami mengimbau guru dan orang tua untuk lebih memperhatikan pola interaksi anak. Mereka belum memahami mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Pengawasan sangat penting,” tutupnya.
Editor: Erwin