Salah satunya soal biaya tes psikologi sebesar Rp150 ribu yang tercantum dalam brosur tanpa keterangan waktu pelaksanaan maupun penjelasan teknis.
Sebelumnya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Satuna menyebut program ini bukan hal baru. Tes serupa dilakukan tahun sebelumnya dan dinilai bermanfaat untuk proses belajar.
Hasilnya membantu guru memahami karakter dan kemampuan siswa, mulai dari minat belajar, kecerdasan, hingga pola pikir.
“Misalnya ada anak yang tergolong ‘slow burner’ atau berpikirnya lambat. Kalau tidak tahu dari awal, kasihan kalau disamakan dengan yang lain,” ucap Satuna.
Namun, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin menilai tes psikologi belum mendesak di jenjang SMP.
“Kalau dianggap perlu, silakan. Tapi menurut saya belum perlu. Tes seperti itu biasanya dilakukan saat masuk perguruan tinggi, bukan di tingkat SMP,” ujar Asli.
Meski ada siswa yang berkebutuhan khusus, pelaksanaan tes psikologi dinilai tidak harus diterapkan secara menyeluruh kepada seluruh peserta didik.
“Misalnya ada anak-anak yang berkebutuhan khusus (dilakukan tes), tapi tidak semua,” ucapnya.
Soal penjualan atribut sekolah, orang tua harus diberi kebebasan memilih. Pembelian di koperasi tidak boleh menjadi kewajiban. Barang yang tersedia di luar tetap boleh dibeli oleh wali murid sesuai kebutuhan.
“Koperasi juga penting, seperti halnya layanan lain. Tapi jangan sampai memaksa. Murid yang ingin beli di situ silakan, tidak pun tidak apa-apa,” tegasnya.
Perbedaan harga antar sekolah selama ini kerap memunculkan kesan negatif. Penyebabnya belum ada acuan resmi. Karena itu, pemkot akan menerbitkan surat keputusan (SK) sebagai pedoman yang bisa diawasi publik.
Karena itu, Asli meminta agar pihak sekolah bersikap fleksibel terhadap siswa baru, terutama dalam masa transisi awal masuk sekolah. Ia menegaskan agar tidak ada pemaksaan, baik dalam hal seragam maupun kegiatan tambahan yang belum mendesak.
“Kalau ada siswa kelas 7 yang belum punya seragam, biarkan saja pakai seragam SD-nya dulu. Jangan sampai ditolak atau diberi sanksi. Biarkan suasana sekolah mengalir seperti biasa,” pungkasnya.
Editor: Erwin