Pemeriksaan berlangsung di Stadion Segiri, Jalan Kesuma Bangsa, dan menjadi bagian dari tahap awal sebelum peserta mengikuti kegiatan belajar mengajar berasrama pada Senin, (14/7/2025).
Pemeriksaan ini diperuntukkan bagi anak-anak yang akan ditempatkan di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) pada gelombang pertama.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) serta instansi teknis lainnya.
Di tengah pelaksanaan tes, sejumlah orang tua turut mendampingi buah hati mereka. Salah satunya adalah Rahimah (39), warga Jalan M. Said, Gang 2, Kecamatan Sungai Kunjang.
Ia mengaku mendaftarkan anaknya karena keterbatasan ekonomi dan akses transportasi menuju sekolah formal. Program SR dinilainya sebagai jalan keluar untuk pendidikan anak yang sering terkendala biaya dan jarak.
“Saya tertarik mendaftarkan anak karena kendala susah juga tidak ada kendaraan mau antar. Saya setuju saja anak saya masuk asrama,” tutur Rahimah, yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga.
Suaminya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan. Jumlah itu harus mencukupi untuk membayar sewa rumah dan menghidupi keempat anaknya.
Anaknya, Reyhan Ahmat, sebelumnya duduk di kelas VIII SMP. Kini harus mengulang ke kelas VII demi mengikuti pendidikan berasrama di SR. Ia pun menjadi satu dari 100 anak terpilih dalam program ini.
“Tapi tidak apa-apa, daripada sering tidak sekolah karena terkendala kendaraan dan tidak ada yang bisa mengantar,” jelas Rahimah.
Ia juga mengaku tak memiliki kekhawatiran menyekolahkan anaknya di SR, sebab seluruh fasilitas telah diinformasikan akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.
“Mudah-mudahan anak saya jadi sukses, sekolahnya sampai selesai, dan cita-citanya tercapai sesuai kemauannya,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Samarinda, Budy Setiawan menjelaskan bahwa skrining ini merupakan bentuk perhatian terhadap kesiapan peserta didik pada tahun ajaran baru, terutama bagi peserta program SR.
“Ini bertujuan memastikan agar peserta didik memiliki kesehatan yang optimal. Artinya, saat proses pembelajaran, mereka bisa mengikuti secara maksimal,” terang Budy.
Adapun aspek yang diperiksa meliputi gangguan penglihatan, pendengaran, serta pemeriksaan kadar hemoglobin (HB) khususnya bagi siswi perempuan untuk mendeteksi potensi anemia sejak dini.
“Biasanya gangguan penglihatan, tapi diharapkan pada usia yang lebih muda, kondisi kesehatan masih optimal. Termasuk pemeriksaan pendengaran,” tambahnya.
Peserta terdiri atas 50 calon siswa jenjang SMP dan 50 jenjang SMA yang telah terverifikasi sebagai penerima manfaat. Mereka hadir mengenakan pakaian olahraga dan didampingi orang tua masing-masing.
Editor: Erwin