Saat ini rata-rata lama sekolah pelajar di Benua Etam baru mencapai 9,9 tahun dan jauh dari target nasional.
“Angka ini masih menunjukkan Kaltim tertinggal dalam hal pencapaian pendidikan. Idealnya, masyarakat bisa menempuh pendidikan hingga 13 tahun,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra kepada Korankaltim.com Senin (16/6/2025).
Politisi dari Partai Golkar itu menyebut rendahnya angka tersebut banyak dipengaruhi oleh kecenderungan masyarakat terutama lulusan SMA yang lebih memilih langsung masuk dunia kerja dibanding melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
“Tidak semua orang memiliki preferensi dan kesempatan yang sama. Banyak yang lebih memilih bekerja setelah tamat SMA meskipun ada juga yang ingin kuliah,” ungkap Andi.
Dengan status Kaltim yang memegang peranan penting sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, hal itu tentu saja jadi hambatan dalam hal kesiapan SDM. Karena itu Andi menyerukan kepada generasi muda Kaltim agar lebih giat mengejar pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang pascasarjana.
“Kaltim harus membangun generasi yang unggul dan siap bersaing. Pendidikan tinggi adalah pondasi penting dalam mewujudkan itu,” tegasnya.
Kualitas SDM menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing daerah terutama menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045, dimana peran pemuda sangat vital.
Sebagai langkah konkret, Andi mendorong pemerintah daerah untuk memperluas akses pendidikan melalui program beasiswa serta peningkatan fasilitas, khususnya di daerah pedesaan dan pinggiran.
“Upaya ini bukan sekadar mengejar statistik, tapi benar-benar menyentuh persoalan mendasar: apakah pendidikan bisa diakses semua kalangan atau tidak,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur