Thauhid menegaskan kegiatan perpisahan boleh dilakukan, namun harus dengan prinsip kesederhanaan dan tidak bersifat wajib.
“Dari dua tahun lalu sudah kita sampaikan bahwa pembelian buku tidak boleh. Perpisahan itu boleh, tapi ada catatan penting, jangan memberatkan dan jangan diwajibkan,” tegasnya.
Ia menyoroti fenomena iuran perpisahan hingga ratusan ribu rupiah untuk menyewa tempat, menampilkan tari-tarian, bahkan studi tour, yang dinilai terlalu mewah dan berisiko menciptakan kesenjangan sosial antar siswa.
Menurut Thauhid, penampilan seni siswa seharusnya tidak hanya terjadi saat perpisahan. Ia mendorong sekolah untuk membuat agenda seni rutin, seperti setiap tiga bulan sekali, agar potensi siswa dapat terus diasah dan ditampilkan tanpa harus menunggu momen perpisahan.
“Kalau mau menampilkan anak-anak dalam tarian, jangan tunggu momen perpisahan. Kalau perlu, tiga bulan sekali buat pola-pola seni, Jangan alasannya ingin menampilkan anak-anak, tapi baru dilakukan saat perpisahan,” tegasnya.
Thauhid juga mengingatkan pendidikan bukan hanya soal seremoni. Ia menyayangkan jika orang tua dipaksa menanggung beban biaya perpisahan, lalu tak lama harus membayar lagi untuk masuk sekolah swasta atau jenjang berikutnya.
“Gunakan saja halaman sekolah, tidak perlu sewa tempat mahal. Jangan ada studi tur juga, yang ujung-ujungnya hanya membebani,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya empati sosial dalam dunia pendidikan. Dalam satu kelas, kata dia, pasti ada siswa dari keluarga kurang mampu.
“Jadi kita tidak melarang perpisahan, tapi buatlah dengan sederhana. Jangan diwajibkan, jangan pakai iuran macam-macam, Perpisahan saja, secukupnya. Ini baru lulus SD, masih ada jenjang berikutnya,” ungkapnya.
Disdikbud Kukar, menegaskan bila ada satuan pendidikan yang masih melakukan pungutan pihaknya akan bersikap tegas dan memanggil pihak terkait.
“Kalau saya tahu ada sekolah seperti itu, langsung saya tegur, saya panggil sekolahnya, pilih edaran saya atau pilih komitenya. Kalau tidak mau saya ganti, tolong ikuti aturan, kita tidak melarang, tapi lakukan secara sederhana,” tandasnya.
Editor: Erwin