Teknologi AI sendiri kini tidak bisa dipungkiri lagi digunakan guna mendukung sistem pembelajaran.
Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Kaltim, Wiwik Setiawati, menyampaikan penggunaan AI oleh para guru sebenarnya bisa membuat siswa lebih senang sebab menjadikan pembelajaran lebih variatif.
“Sehingga siswa bisa lebih senang jika gurunya canggih dalam memanfaatkan teknologi dan menyenangkan,” ujar Wiwik, Jumat (17/1/2024).
Tetapi menurutnya dalam penerapan ini harus terdapat batasan, selain itu peran guru tentunya tidak dapat digantikan dengan kecerdasan buatan tersebut.
“Sebab jangan sampai adanya teknologi kita bergantung sama AI, akhirnya kemampuan siswa di dalam menganalisis dan menyelesaikan masalah karena apa saja bisa di tanya ke AI tanpa melewatkan proses pencarian berfikir mendalam,” ucapnya.
Sehingga hal ini tentunya berdampak pada proses berfikir kritis, yang sebenarnya bisa terasah secara mandiri apabila terus dilakukan.
Maka dari itu, Wiwik ungkap peran guru dan pendidikan dalam pemanfaatan AI tetap dapat memperhatikan kemampuan siswa khususnya kemampuan berfikir dan kognitif secara proses konstruktif.
Lebih lanjut, dalam penerapan AI harus ada pembatasan, semisal penggunaan AI hanya sebatas konfirmasi.
“Artinya informasi atau pemahaman yang didapat itu sudah didapat melalui pengalaman belajar sebelumnya, sehingga tidak langsung ditanyakan ke AI,” tandasnya.
Editor: Erwin