Koordinator Program Studi D4 Usaha Perjalanan Wisata yang juga menjadi bagian dalam kegiatan, Muhammad Fauzan Noor mengaku yang menjadi mitranya dalam kegiatan tersebut, yakni Dinas Pariwisata Kukar karena memiliki program pengembangan terhadap desa wisata. Dimana, terdapat 11 desa yang ditawarkan, tetapi hanya tiga desa yang bersedia.
“Awalnya mereka mengajukan 11 desa yang ingin dibantu, tapi hanya tiga yang kami sanggupi. Karena memang untuk pendampingan kami lakukan secara intensif,” kata Fauzan, Minggu (22/12/2024).
Ketidaksanggupan itu bukan tanpa alasan. Menurut Faudzan dalam program ini tidak hanya sekadar seminar atau pelatihan, tetapi pendampingan yang benar-benar harus memberikan hasil setelahnya.
Enam bulan dilalui, Faudzan mengaku pihaknya mendampingi ketiga desa tersebut untuk bisa menciptakan daya tarik, dan memberikan peluang agar bisa dikunjungi.
Meski program ini sudah rutin berlangsung, namun ini adalah kali pertama bagi Polnes menjalani program Dana Padaan tersebut.
Ketua Pokdarwis Mentari Desa Bangun Rejo, Lukiyan Purwanti, mengaku pendampingan dilakukan untuk mengemas dan menggali potensi yang ada di desanya.
“Kami mendapatkan pendampingan untuk membuat paket wisata. Awalnya kami hanya tau memang banyak potensi di desa kami. Setelah ada pendampingan, kami jadi tahu titik mana yang bisa kami kemas jadi paket wisata,” kata Bu Luki.
Dari sana, ada banyak wisatawan yang berminat untuk menggunakan paket wisata tersebut. Pendampingan dilanjutkan dengan penyempurnaan visi dan misi, serta pembuatan program kerja jangka pendek, menengah dan panjang.
Kini program kerja mereka sudah dilengkapi dengan waktu pelaksanaan, target realisasi, realisasinya, hambatan dan rekomendasi dari program kerja tersebut. Beberapa pendampingan lainnya juga diakui Purwati membantu pihaknya dalam mengembangkan potensi wisata hingga saat ini.
Editor: Erwin