Sebelumnya, korankaltim.com mengunjungi SDN 002 Ujoh Bilang dan memantau sekolah tersebut yang juga mengalami masalah yang sama dengan SDN 001 Ujoh Bilang yaitu keterbatasan ruang kelas. Memiliki jumlah murid yang kurang lebih sama dengan SDN 002, SDN 001 Ujoh Bilang memiliki jumlah murid sebanyak 314 orang sehingga pihak sekolah membuat sesi pembelajarannya menjadi dua karena di sekolah tersebut dibagi menjadi 14 rombongan belajar (rombel).
Kepala SDN 001 Ujoh Bilang, Florentina mengatakan, di sekolah yang ia pimpin itu terdapat 14 rombel, sementara ruang kelas yang tersedia hanya 10. “Kenapa rombelnya bisa bertambah, karena di setiap tahun pembelajarannya siswa juga semakin meningkat. Tidak mungkin kami menolak,” ucap Florentina.
Selain keterbatasan ruang kelas, dia juga mengatakan sekolahnya memiliki keterbatasan ruang guru, lantaran guru-guru yang ada saat ini sudah mencapai 27 orang, sehingga mereka mau tidak mau harus berdesak-desakan.
Tak adanya ruang laboratorium komputer juga menjadi permasalahan sekolah ini, sehingga selama dua tahun belakangan, ruang laboratorium IPA digunakan sebagai laboratorium komputer maupun untuk pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). “Nah itulah yang kita nanti-natikan, karena setiap tahun kan kita ada ANBK. Jadi untuk selama dua tahun ini kami menggunakan ruang laboratorium IPA,’’ sebutnya kepada korankaltim.com.
Di sisi lain, dia menyebut sekolah ini juga membutuhkan ruang khusus pembelajaran keagamaan untuk agama Kristen Protestan dan Islam, namun demikian sampai saat ini pihaknya masih menggunakan ruang Perpustakaan untuk melaksanakan ruang belajar keagamaan bagi murid-murid di SDN 001.
“Untuk ruang belajar agama Islamnya memang sudah disedikan, namun untuk tempat wudhu yang belum ada,” jelasnya.
Sementara untuk sarana olahraga di sekolah ini sudah ada, namun halamannya disediakan dengan seadanya saja yang terkadang digunakan untuk tempat rapat antara guru dengan orang tua atau wali murid. “Kecuali kalau kami mengundang ada rapat, ya suka tidak suka kami lakukan di situ,” tambahnya.
Selain fasilitas serta sarana dan pra sarana sekolah, Florentina juga menyebut pihaknya mengalami kekurangan tenaga pendidik. Yang mana ia sebut untuk guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah itu masih berstatus honorer selama tiga tahun yang belum memiliki SK Pegawai Tidak Tetap (PTT) atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). “Kalau untuk guru kelas kami masih menunggu, ya mudah-mudahan untuk tahun ini ada formasi untuk guru kelas 3 dan kelas 5,” harapnya.
Editor: Maruly Z