"Sudah pasti ada tantangan, tantangan yang dihadapi oleh bapak atau ibu guru, karena ada banyak hal baru yang ditemukan dalam project sekolah penggerak ini," ungkap Arifuddin kepada korankaltim.com, pada Minggu (8/10/2023).
Project sekolah penggerak ini merupakan upaya untuk menjalankan kurikulum merdeka belajar yang menjadi fokusan yaitu ekstra kulikuler, intra kurikuler dan sistem proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Sehingga diproject ini yang menjadi fokusan utama adalah memberikan penguatan karakter pada peserta didik, terkhusus untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginan dari murid itu sendiri.
"Substansi utamanya berpusat pada murid, jadi tantangannya itu bagaimana guru bisa menerima dan mewujudkan apa yang menjadi fokusan program penggerak, yaitu murid," ungkapnya.
Selain itu, Arifudin menilai tantangan selanjutnya yaitu guru harus dituntut semakin krearif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran serta pendampingan kepada peserta didik.
"Karena itu adalah bagian dari kurikulum merdeka, sehingga kami sebagai guru harus mampu melakukan itu demi meningkatkan kualitas SDM bagi para murid," jelasnya.
Tentu dalam kurun waktu 2 tahun ini, Arifudin mengaku pihaknya tidak begitu kesulitan dalam menjalankan program sekolah penggerak ini karena kerja sama sesama guru yang terbilang cukup baik.
"Tapi semua tantangan itu, berkat kolaborasi teman-teman guru semua, alhamdulilah bisa teratasi dengan baik," imbuhnya.
Memasuki usia ketiga tahun sebagai angkatan pertama sekolah penggerak, Arifudin berharap bahwa ke depan pihaknya mampu merealisasikan program sekolah penggerak dengan baik.
Ia menjelaskan bagaimana di tahun pertama mengenal program sekolah penggerak dengan segala perangkatnya dan metode pembelajarannya agar teman-teman guru bisa paham tentang kurikulum merdeka, modul ajar dan project.
"Waktu di tahun kedua, kami mempelajari tentang bagaimana menjalankan program sekolah penggerak dan di tahun ketiga ini harapannya semua itu bisa tuntas," pungkasnya.
Editor: Maruly Zainuddin